_pembelajar sejati,siap beraksi,berjuang sepenuh hati_

"Cinta yang tulus_cinta Allah SWT"

Sabtu, 09 Juli 2011

Tausiyah Mujahidah......

Tuk Mujahidah Sholehah…..
Dengan kecantikanmu, kau lebih elok dari mentari,
Dengan akhlakmu, kau lebih wangi dari harum bunga..
Dengan rendah hatimu, kau lebih tinggi dari bulan..
Dengan kelembutanmu, kau lebih  halus dari rintik hujan...
Pertahankanlah keindahan ini, agar kau bisa terus menjadi sayap perjuangan Islam..
Penegak kaliamat Allah di muka bumi...

Andaikan Dakwah bisa tegak seorang diri, . .
Tak perlu Musa mengajak Harun,
Rasululloh mengajak Abu Bakar untuk menemaninya Hijrah.
Meskipun pengemban Dakwah itu seorang yang’Alim, Faqih dan memiliki Azzam yang kuat..
Tetap saja ia manusia lemah dan akan selalu membutuhkan saudaranya,
Meskipun saudaranya itumemiliki banayk keterbatasan.
Peliharalah ia dan jangan jau sia – siakan saudaramu.
Karena ia sangan mahal dan mungkin ialah yang selalu mendoakanmu dalam setiap langkah – langkahmu.


Rasulullah senantiasa berwajag ceria, beliau pernah bersabda :
 ” Janganlah terlalu membebani jiwamu dengan segala kesungguhan hati, hiburlah dirimu dengan hal – hal  yang ringan dan lucu. Sebab bila hati terus dipaksakan memikul beban – beban yang berat, maka ia akan menjadi buta .

” Teman, janganlah kita bergerak karena suatu beban. Namun bergeraklah karena hati dan langkah yang pasti!!. Adanay amanah adalah kebutuhan, bukan sekedar keinginan kita. Pilihlah keputusan itu berdasarkan karena kebaikan, bukan karena kepentingan!! Ti dak semua orang diberikan kelebihan untuk membuat suatu perubahan. Jadi  jangan sampai kita sia – siakan waktu untuk lama tersadar!.

Ketika ku minta pada Allah setangkai bunga segar, DIA beri aku kaktus berduri
Aku pun minta pada-NYA  binatang mungil nan cantik, DIA beri aku ulat.
Aku sempat sedih, protes dan kecewa
Betapa tidak  adilnya ini.
Namun kemudian.
Kaktus itu berbunga sangat indah sekali..
Dan ulat itu pun tumbuh dan berubah menjadi kupu – kupu yang teramat cantik.
Itulah jalan Allah, Idah pada waktunya.
Allah akan berikan apa yang kita perlukan,
Kadang kita kecewa, terluka, tapi jauh di atas segalanya.
Allah sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan kita.

Kamis, 07 Juli 2011

Benarkah Kita Kader Dakwah???

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki kepahaman yang utuh. Paham akan falsafah dasar perjuangan, paham akan nilai-nilai yang diperjuangkan, paham akan cita-cita yang hendak dicapai, paham akan jalan yang harus dilalui. Kader dakwah memiliki pemahaman yang komprehensif. Paham akan tahapan-tahapan untuk merealisasikan tujuan, paham akan konsekuensi setiap tahapan, paham akan logika tantangan yang menyertai setiap tahapan, paham bahwa di setiap tahapan dakwah memiliki tingkat resiko yang berlainan. Kepahaman kader dakwah terus berkembang.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki keikhlasan yang tinggi. Ikhlas artinya bekerja hanya untuk Allah semata, bukan untuk kesenangan diri sendiri. Sangat banyak godaan di sepanjang perjalanan dakwah, baik berupa harta, kekuasaan dan godaan syahwat terhadap pasangan jenis. Hanya keikhlasan yang akan membuat para kader bisa bersikap dengan tepat menghadapi segala bentuk godaan dan dinamika dakwah. Sangat banyak peristiwa di sepanjang perjalanan dakwah yang menggoda para kader untuk meninggalkan jalan perjuangan. Ikhlas adalah penjaga keberlanjutan dakwah.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki amal yang berkesinambungan. Amal dalam dakwah bukanlah jenis amal yang setengah-setengah, bukan jenis amal sporadis, spontan dan tanpa perencanaan. Sejak dari perbaikan diri dan keluarga, hingga upaya perbaikan masyarakat, bangsa, negara bahkan dunia. Amal dalam dakwah memiliki tahapan yang jelas, memiliki tujuan yang pasti, memiliki orientasi yang hakiki. Kader dakwah tidak hanya beramal di satu marhalah dan meninggalkan marhalah lainnya. Kader dakwah selalu mengikuti perkembangan mihwar dalam dakwah, karena itulah amal yang harus dilalui untuk meretas peradaban.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki etos jihad yang abadi. Jihad dalam bentuk kesungguhan, keseriusan, dan kedisiplinan dalam menggapai visi dakwah yang hakiki. Kesungguhan membela hak-hak umat, kesungguhan mendidik masyarakat, keseriusan mengusahakan kesejahteraan masyarakat, kedisiplinan membersamai dan menyelesaikan persoalan kehidupan yang semakin kompleks. Kader dakwah harus memberikan kesungguhan dalam menjalankan semua agenda dakwah, hingga menghasilkan produktivitas yang paripurna, di lahan apapun mereka bekerja. Itulah makna jihad dalam konteks perjalanan aktivitas dakwah.


Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki pengorbanan yang tak terhingga nilainya. Dakwah tidak mungkin akan bisa dijalankan tanpa pengorbanan. Sejak dari pengorbanan harta, waktu, tenaga, pikiran, fasilitas, hingga pengorbanan jiwa. Rasa lelah, rasa jenuh, rasa letih selalu mendera jiwa raga, kesenangan diri telah dikorbankan demi tetap berjalannya roda dakwah. Aktivitas dijalani sejak berpagi-pagi hingga malam hari. Kadang harus bermalam hingga beberapa lamanya, kadang harus berjalan pada jarak yang tak terukur jauhnya, kadang harus memberikan kontribusi harta pada kondisi diri yang belum mapan dari segi ekonomi. Pengorbanan tanpa jeda, itulah ciri kader dakwah yang setia.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki ketaatan kepada prinsip, keputusan organisasi, dan kepada pemimpin. Prinsip-prinsip dalam dakwah harus dilaksanakan dengan sepenuh ketaatan. Taat kepada pondasi manhaj adalah bagian penting yang akan menghantarkan dakwah pada tujuannya yang mulia. Taat kepada keputusan organisasi merupakan syarat agar kegiatan dakwah selalu terbingkai dalam sistem amal jama’i. Taat kepada pemimpin merupakan tuntutan agar pergerakan dakwah berjalan secara efektif pada upaya pencapaian tujuan. Ketaatan bukan hanya terjadi dalam hal-hal yang sesuai dengan pendapat pribadi, namun tetap taat terhadap keputusan walaupun bertentangan dengan pendapatnya sendiri.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki keteguhan tiada henti. Kader dakwah harus selalu tegar di jalan dakwah, karena perjalanan amatlah panjang dengan berbagai gangguan dan tantangan yang menyertainya. Teramat banyak aktivis dakwah semasa, dimana mereka memiliki semangat yang menyala pada suatu ketika, namun padam seiring berjalannya usia. Ada yang tahan tatkala mendapat ujian kekurangan harta, namun menjadi gugur saat berada dalam keberlimpahan harta dunia. Ada yang tegar saat dakwah dilakukan di jalanan, namun tidak tahan saat berada di pucuk kekuasaan. Kader dakwah harus berada di puncak kemampuan untuk selalu bertahan.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki kemurnian dan kebersihan dalam orientasi aktivitasnya. Sangat banyak faktor yang mengotori kebersihan orientasi dakwah. Ada kekotoran cara mencapai tujuan. Ada kekotoran dalam usaha mendapatkan harta. Ada kekotoran dalam langkah menggapai kemenangan. Kader dakwah harus selalu menjaga kemurnian orientasinya, tidak berpaling dari kebenaran, tidak terjebak dalam kekotoran. Karena dakwah memiliki visi yang bersih, sehingga harus dicapai dengan langkah dan usaha yang bersih pula.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki solidaritas, persaudaraan dan kebersamaan yang tinggi. Ukhuwah adalah sebuah tuntutan dalam menjalankan agenda-agenda dakwah. Semakin besar tantangan yang dihadapi dalam perjalanan dakwah, harus semakin kuat pula ikatan ukhuwah di antara pelakunya. Kader dakwah saling mencintai satu dengan lainnya, saling mendukung, saling menguatkan, saling meringankan beban, saling membantu keperluan, saling berbagi dan saling mencukupi. Kader dakwah tidak mengobarkan dendam, iri dan benci. Kader dakwah selalu membawa cinta, dan menyuburkan dakwah dengan sentuhan cinta.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki tingkat kepercayaan yang tak tertandingi. Berjalan pada rentang waktu yang sangat panjang, dengan tantangan yang semakin kuat menghadang, menghajatkan tingkat kepercayaan prima antara satu dengan yang lainnya. Berbagai isu, berbagai fitnah, berbagai tuduhan tak akan menggoyahkan kepercayaan kader dakwah kepada para pemimpin dan kepada sesama kader dakwah. Berbagai caci maki, berbagai lontaran benci, berbagai pelampiasan kesumat, tak akan mengkerdilkan kepercayaan kader terhadap langkah dakwah yang telah dijalaninya.
Jadi, benarkah kita kader dakwah ?


nDalem Mertosanan, Yogyakarta, 30 Mei 2011


Oleh Cahyadi Takariawan...

Selasa, 05 Juli 2011

FIQH DAKWAH (Syaikh Musthafa Masyhur)

MUQADDIMAH

( Surah Yusuf ayat 108 )
Medan dakwah merupakan satu lapangan yang luas selari dengan objek dakwah yang dibawa oleh para rasul iaitu agama Islam. Justeru itu para duat selaku juru dakwah mempunyai tugas dan tanggungjawab yang besar dalam rangka menyalur dan menyampaikan risalah dakwah dengan lebih terarah dan terencana. Oleh itu pemahaman yang mendalam dan mendasar mengenai “Fiqh Dakwah” adalah perlu agar penyebarluasan risalah ini mencapai tahap yang maksimum.

1. PEMAHAMAN FIQH DAKWAH
Fiqh dakwah merupakan cantuman dua rangkaikata iaitu Fiqh dan Dakwah. Setiap kalimah mempunyai maknanya tersendiri.
FIQH : Mengetahui (tahu) dan memahami (faham).
DAKWAH : Seruan kepada sesuatu iaitu galakkan melakukan sesuatu.

Dakwah ilallah : Seruan kepada beriman kepada Allah Taala dan beriman dengan apa yang dibawa oleh para rasul dengan membenarkan segala perkhabaran yang dibawa, patuh dan tunduk dengan segala titah perintah Allah Taala dan meninggalkan segala larangannya, justeru agama Islam merupakan agama penamat, syumul dan lengkap.
Ini bermakna dakwah ilallah ialah seruan untuk tunduk dan patuh kepada agama Islam secara keseluruhannya (total). Meyakini Islam adalah agama yang benar, yang dibawa oleh junjungan besar nabi Muhammad s.a.w yang diwahyukan oleh Allah Taala sebagaimana firmanNya :(Surah Fussilat : 43)
Maksudnya : Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan dan belakangnya, yang diturunkan dari Allah yang maha bijaksana lagi maha terpuji.


2. KEWAJIBAN MENYAMPAIKAN DAKWAH
Sesungguhnya kewajipan menyampaikan dakwah Islamiah merupakan satu tuntutan secara syar’ie. Kewajipan ini tertanggung di atas bahu umat Islam tidak mengira tua atau muda, lelaku mahupun perempuan, kecil atau besar, samada pemerintah atau rakyat jelata secara khususiah atau umum. Tuntutan ini mesti direalisasikan mengikut kadar keupayaan diri, berdasarkan kemampuan tenaga dan darjah kemantapan iman serta rasa sensitiviti terhadap realiti umat Islam di samping iklim persekitaran masyarakat yang dilingkunginya.

Ini jelas berdasarkan firman Allah di dalam Surah At Taubah ayat 71.

Islam juga menjelaskan kaedah penyebarluasan dakwah ini adalah merangkumi semua golongan muslimin.

( Surah Ali Imran : 110 )
Di dalam ayat di atas para ulama’ menjelaskan ibarat adalah merangkumi seluruh umat muslimin tidak mengira jenis keturunan, bahasa, budaya, warna kulit dan bangsa. Kesemuanya adalah sama menerima tuntutan tersebut.
Tidak syak lagi di sana terdapay banyak nas dari Al Quran dan As Sunah yang menjelaskan kewajipan menyampaikan risalah dakwah Islamiah secara qat’ie (dalil qat’ie).
Nas Al Quran :
(Surah Ali Imran : 104)
Di dalam ayat di atas pada kalimah adalah iaitu menunjukkan kata perintah dan perintah untuk melakukan sesuatu menurut kaedah usul adalah suatu yang wajib dilakukan. Ibarat di dalam ayat yang dimaksudkan daripadanya adalah sekelompok atau segolongan daripada ulamak dan du’at yang bertugas untuk menyeru amar ma’ruf dan mencegah amal mungkar dan menjaga pandangan umum di setiap rantau dan ceruk mujtamak Islam sekalipun kewajipan tersebut pada asalnya tertumpu kepada setiap individu daripada umat Islam mengikut kadar kemampuan, persediaan dan momentum iman.
Ibnu Katsir di dalam mentafsirkan ayat di atas menyatakan perlunya satu kelompok di kalangan umat Islam memikul tugas mencegah kemungkaran dan menyeru kepada ma’ruf sekalipun tugas tersebut terbeban kepada setiap individu muslim, setiap daripada mereka melaksanakan tugas tersebut mengikut keupayaan mereka
Di dalam hadis rasul, apakah yang dimaksudkan dengan dan juga ibarat Bukankah ia bermakna setiap individu yang berintima’ dengan jemaah muslimin mesti memberi janji setia dan patuh taat kepada ketua/amir? Anggota mesti mendengar dan patuh kepada setiap arahan di dalam keadaan senang ataupun susah dan tidak sekali-kali bertindak keluar dari jemaah kecuali arahan yang dikeluarkan berbentuk maksiat atau menyeru kepada kekufuran. Justeru ia menyatakan kebenaran di mana sahaja ia berada tanpa menghiraukan celaan dan kejian melainkan hanya takut kepada Allah.
Jelasnya, kewajipan menyampaikan risalah dakwah Islamiah ke serata pelusuk rantauadalah satu tuntutan sebagaimana wajibnya beriltizam terhadap jemaah Islam di atas dasar wajibnya memberi peringatan kepada manusia.

3. SEBAB DAKWAH
Sebab ialah setiap sesuatu yang terhasil daripadanya kesan atau perubahan ataupun pergerakan. Dengan erti kata lain ia merupakan satu hal keadaan yang didahului dengan hajat atau keperluan iaitu samada peristiwa, perubahan atau pergerakan.Sebagaimana yang kita ketahui sesuatu keputusan yang berlaku dihukumkan dengan sebab dan diikat dengan logikal akal.
Asbab dakwah terbahagi kepada dua :
1. Terbit daripada akidah yang mantap dan nas agama.
2. Pemahaman yang sahih mengenai dakwah berdasarkan akidah.

Sebab yang pertama ( Terbit Daripada Akidah yang Mantap)
1.1 Tuntutan pengabdian manusia hanya kepada Allah.
Allah s.w.t menuntut manusia dan jin supaya meletakkan ubudiah hanya kepadanya tanpa ada unsure pensyirikannya. Allah s.w.t tidak meninggalkan tuntutan tersebut begitu sahaja tetapi Allah s.w.t mengutuskan kepada manusia para rasul untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab yang berupa suruhan dan larangan untuk disampaikan kepada manusia.
1.2 Di antara tugas tersebut ialah menunjukkan akal manusia kepada mengenal Allah s.w.t samada zat, sifat dan nama, mengajar manusia perkara-perkara ghaib, menjelaskan perkara-perkara halal dan haram guna untuk kesempurnaan hidup, menjelaskan konsep ukhuwwah di dalam kehidupan dan mendidik diri serta akhlak yang baik. Tugas tersebut dijelaskan dengan firman Allah Taala di dalam Surah Az Zariat ayat 56-57 :
1.3 Tuntutan bertaaruf / kenal mengenal.
Sesungguhnya Allah s.w.t menghendaki manusia agar bertaaruf di antara satu sama lain untuk melengkapkan konsep kemasyarakatan dalam bentuk yang lebih berfaedah dan bermakna, iaitu konsep faham memahami, tolong menolong, ziarah menziarahi yang akan membangkitkan suasana harmonis di dalam kelompok masyarakat.
Firman Allah Taala : (Surah Al Hujrat : 13)
Nas tersebut menjelaskan
• Allah Taala telah menjadikan manusia daripada asal yang satu iaitu Adam ‘Alaihissalam dan Hawa
• Fitrah kejadian manusia adalah berhajatkan kepada persaudaraan iaitu memerlukan orang lain semenjak tarikh kemanusiaan yang awal iaitu Adam ‘Alaihissalam.
• Taaruf merupakan maslahat kepada manusia dalam pola kehidupan masyarakat.
1.4 Tuntutan menjadi khalifah di muka bumi dan megimarahkannya.
Allah s.w.t telah melantik manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Justeru terbeban kepada mereka tanggungjawab dan kewajipan mengimarahkan bumi dan seisinya dengan melaksanakan garis panduan yang ditetapkan oleh Allah s.w.t yang berupa syariat dan perundangan Islam.
Firman Allah Taala :(Surah An Nur : 55) (Surah Hud : 61)
Nas di atas menerangkan :
أ. Allah s.w.t telah menjanjikan kepada orang mukmin untuk menjadikan mereka ‘khalifah’ di muka bumi sebagaimana sebelumnya Allah telah melantik orang-orang mukmin dan mereka yang beramal soleh.
ب. Allah s.w.t menegaskan akan menegakkan bagi mereka agama yang diredhoi olehnya.
ج. Tuntutan mengimarahkan muka bumi.


2. Sebab Yang Menuntut Kefahaman Mengenai Dakwah Dengan Pemahaman Yang Sahih
Berdasarkan Akidah dan Agama.
Kefahaman yang sahih terhadap akidah dan agama adalah bertitik tolak atau terbit daripada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah s.a.w, merangkumi skop yang menyeluruh daripada keduanya samada dari sudut ilmu, penafsiran dan penjelasan daripada keduanya.
Kefahaman yang jelas terhadap akidah dan agama ini berdiri di atas asas dan rukun yang melingkari individu muslim tersebut sejak zaman berzaman. Asas dan rukun tersebut adalah :

Sesungguhnya umat Islam keseluruhannya adalah umat yang satu dalam konteks akidah, ibadah, muamalah dan akhlak. Kesatuan yang terbina ini merentasi sempadan daerah dan tempat, warna kulit dan bangsa, budaya dan bahasa. Di atas faktor yang berlaku konsep dakwah perlu dimainkan kembali untuk mengikat kesatuan yang sedia ada.
Fenomena yang melingkari umat Islam dengan perspektif kehidupan yang berbeza dari aspek pemerintah, kemasyarakatan, keintelektualan, dan sosio ekonomi dalam konteks bernegara menyebabkan mereka terhalang untuk meletakkan syariat Islam sebagai perundangan yang tertinggi. Ini mengakibatkan berlakunya pelbagai masalah dan kezaliman lantaran mereka jauh daripada perundangan yang sebenar. Kesannya gejala kerosakan dan kebejadan semakin bertambah, begitu juga perpecahan dan kemunduran.
Sesungguhnya umat Islam dituntut untuk beramal mengikut kemampuan yang ada dengan berpandu arah oleh Al Quran dan Sunnah. Justeru itu ia menuntut untuk merubah suasana yang tidak baik yang berlaku di dalam kehidupan masyarakat sekitarnya dengan uslub yang dibenarkan oleh Islam.


4. RUKUN DAKWAH

Sejajar dengan konsep dakwah iaitu seruan kepada agama Islam selaku penamat yang dibawa oleh junjungan besar Muhammad s.a.w, yang merupakan wahyu daripada Allah s.w.t. Ia selari dengan apa yang dijelaskan oleh Al Quran dan Sunnah Nabawiyyah dengan skop perbincangan yang luas yang merangkumi peristiwa-peristiwa yang terjadi kepada Rasulullah dan sirah perjalanannya yang panjang, maka rukun dakwah yang terbina adalah diasaskan di atas dasar agama Islam itu sendiri.
Rukun dan asas tersebut (secara teori dan praktikal) adalah :

أ. Aqidah
ب. Ibadah
ج. Akhlak

Ketiga-tiga asas di atas terikat dengan ikatan yang kukuh di antara satu sama lain
dimulai dengan asas aqidah yang sahih mencernakan ibadah yang sejahtera. Binaan ibadah yang sejahtera melahirkan peribadi yang luhur dalam konteks individu dan masyarakat. Amal soleh tercetus apabila ibadah yang dilakukan berdasarkan akidah yang murni.

4.1 Aqidah
Aqidah ialah perkara yang wajib dipercayai oleh setiap individu muslim dengan keyakinan yang thabat untuk didirikan di atasnya konsep ibadah, akhlak bagi setiap individu dan masyarakat. Ruang lingkup perbicaraan aqidah adalah :

1. Beriman kepada Allah.
2. Beriman kepada para Malaikat.
3. Beriman kepada para Rasul.
4. Beriman kepada Kitab
5. Beriman kepada Hari Qiamat.
6. Beriman kepada Qada’ dan Qadar.


4.2 Ibadah
Iaitu penerjemahan daripada aqidah yang murni, merealisasikan konsep aqidah dalam bentuk yang praktikal. Ibadah tersebut ialah yang di fardukan oleh Allah Taala kepada setiap individu muslim. Dasar-dasar ibadah adalah:
1. Dua kalimah syahadah (Syahadatain)
2. Mendirikan solat
3. Mengeluarkan zakat
4. Puasa di bulan Ramadan
5. Mununaikan haji bagi sesiapa yang berupaya
6. Ibadah dalam pengertian yang luas

4.3 Akhlak
Iaitu perilaku yang murni dihiasi dengan norma-norma akhlak muslim yang mesti diimplimentasikan dalam kehidupan masyarakat individu muslim adalah seperti berikut:
1. Cabang iman
2. Amar ma’ruf dan Nahi mungkar
3. Al-Adlu Wal-Ihsan
4. Jihad fisabillah

Di dalam hal di atas (konsep akhlak) perkara-perkara di atas kadang-kadang menjadi fardhu di dalam keadaan tertentu, kadang-kadang pula menjadi sunat di dalam keadaan yang tertentu. Dalam keadaan yang lain pula ia terkadang menjadi amalan yang biasa dan pilihan. Namun begitu kesemuanya merupakan akhlak-akhlak Islam yang luhur.

5. MATLAMAT (TUJUAN ) DAKWAH
Hala tuju dakwah yang hendak dicapai secara umumnya adalah senada dan seirama dengan tujuan agama Islam diturunkan kepada Bani Basyar iaitu untuk mencapai kemaslahatan manusia dan menyingkirkan sebarang agen-agen perosak dan pembinasa yang boleh mencacatkan keharmonian kehidupan manusia samada di dunia dan akhirat. Imam Al Iz bin Abd Dissalam mengatakan :
“Sesunguhnya syariat itu adalah kemaslahatan baik mencegah dari kerosakan maupun mencapai kemaslahatan“
Tuju sasar dakwah secara umum terbahagi kepada dua:
1. Fardi
2. Jamai’e

Di antara matlamat dan rangka tuju dakwah yang hendak dicapai adalah seperti berikut :

5.1 Menunjuk manusia kepada pengabdian yang total kepada Allah s.w.t bertepatan dengan apa yang disyariatkan kepada mereka. Ini merupakan tugas asas dan asal kebangkitan para rasul di muka bumi ini. Namun begitu tugas tersebut berpindah kepada para duat selaku galang ganti kepada tugas yang ditinggalkan oleh para rasul seraya para du’at merupakan pewaris para nabi dan rasul
Justeru itu, para du’at berperanan sebagai penerang, penafsir dan petunjuk jalan kepada manusia kepada persoalan dasar dan asas iaitu konsep tauhid dan menjelaskan konsep Islam sebagai satu cara hidup.

5.2 Menunjuk manusia agar berta’aruf (kenal mengenal) di antara satu sama lain. Ia merupakan satu perintah dari Allah Ta’ala untuk dilaksanakan oleh manusia seluruhnya.
Para du’at diwajibkan menjelaskan perkara tersebut kepada manusia tidak boleh hidup berseorangan. Interaksi dan komukasi di antara manusia merupakan naluri yang ada di dalam jiwa manusia.

5.3 Mengubah suasana yang buruk dan iklam yang bejad di dalam realiti kehidupan manusia kepada iklam Islamiah bagi menjamin kemaslahatan kehidupan yang sejahtera di dunia dan akhirat. Para du’at diperlukan untuk mencernakan misi tersebut. Menjelaskan konsep Jahiliyyah kepada manusia agar mereka berupaya menanggapi perkara tersebut sehingga mereka dapat menyusun kehidupan dengan teratur.

5.4 Mendidik individu muslim dengan tarbiyyah Islamiah Syumuliah yang merangkumi tarbiah rohiah, jasadiah, fikriah dan ‘aqliah.

5.5 Membentuk Bait Muslimah dengan mendidik individu-individu tersebut bertepatan dengan Manhaj Islam dan system kekeluargaan yang berteraskan kepada roh Islami. Justeru itu institusi ini dapat melahirkan jil muslim yang bersifat taqwa, menjadi tunas baru demi terbentuknya masyarakat Islam yang diimpikan.

5.6 Membentuk Mujtamak Muslim yang merealisasikan norma-norma Islam dari segi dasar dan akhlak. Dengan erti kata lain, masyarakat yang mengimplimentasikan system dan peraturan mengikut neraca timbangan Islam yang mampu mengaplikasikan konsep amar ma’ruf dan nahi mungkar, al ‘adl wal ihsan di dalam kehidupan masyarakat.

5.7 Usaha untuk mewujudkan Negara Islam yang melaksanakan syariat Allah terhadap manusia. Negara Islam yang mengamalkan keadilan individu, menjaga maslahat umum, mengekang fasad dan melaksanakan amanah, menyebar agama Islam kepada seluruh manusia dan menyebarluaskan pendidikan Islam.

5.8 Usaha untuk membebaskan negara Islam keseluruhannya daripada cengkaman mana-mana musuh dalam realiti yang ada atau keadaan yang melingkunginya. Membebaskannya daripada mengikut arus atau perancangan oleh pemuka-pemuka arkitek barat.
Negara yang awal yang mesti dibebaskan ialah Palestin di mana ramai di kalangan manusia tertipu dalam tempoh yang panjang.

5.9 Usaha untuk mewujudkan kesatuan yang jitu di antara negara-negara Islam dalam konteks kesatuan fikrah dan ilmu, kesatuan matlamat dan hadaf, kesatuan ekonomi dan siasah di antara negara Islam.
Satu impian untuk meletakkan negara-negara Islam di bawah “Payungan Khilafah Islamiah” iaitu daulah Islamiah yang menjalankan syariat dan perundangan Islam.

5.10 Usaha untuk melebarluaskan Dakwah Islamiah seluruh alam maya, timur dan barat, di negara Islam dan bukan Islam sejajar dengan “Agama Basyariah”.

" Berpuluh tahun kita meninggalkan asal usul kita, demi mencari pengertian sebuah kehidupan. Namun tidak salah untuk kita kembali jatuh cinta pada dunia yang pernah membesarkan kita, dan di sinilah bermulanya kehidupan sebenar "
Pada dasarnya, dakwah tidak dapat berjalan hanya dengan bekal pengetahuan mendalam mengenai mana yang benar dan mana yang salah. Banyak ulama yang telah menghasilkan karya-karya berupa buku yang membahas fiqh dakwah, misalnya Syaikh Jum’ah Amin Abdul Aziz, Syaikh Musthafa Masyhur yang bukunya merupakan kumpulan artikelnya di sebuah media massa. Fiqh ini pun pada akhirnya dilengkapi pula dengan berbagai pengetahuan lainnya, misalnya dengan apa yang oleh Syaikh Yusuf al-Qaradhawi sebut sebagai “Fiqh Prioritas”, dan berbagai teknik untuk mendekati hati objek dakwah, misalnya seperti yang dijelaskan oleh Abbas as-Siisi dalam bukunya, “Bagaimana Menyentuh Hati”. Di luar itu, masih berlimpah referensi lainnya yang dapat dipergunakan untuk memperkaya wawasan para dai.
Katakanlah kita memiliki cita-cita untuk memberangus perjudian di sekitar lingkungan rumah kita. Sebuah cita-cita yang mulia dan sudah pasti sejalan dengan ajaran Islam. Akan tetapi impian tersebut akan sulit terwujud jika kita sekonyong-konyong mendatangi tempat-tempat perjudian tersebut dan mengajak berkelahi semua orang yang ada di sana.
Sirah nabawiyah pada hakikatnya adalah sebuah paparan fiqh dakwah yang cukup lengkap. Ada berbagai macam cara dakwah Rasulullah saw., mulai dari yang halus sampai yang frontal. Beberapa contoh kasus bentuk dakwah beliau yang sangat beragam adalah :
1. Ketika mencari perlindungan ke Thaif, dan gagal, beliau dianiaya oleh penduduk setempat. Terhadap perlakuan ini, Rasulullah saw. memilih sikap diam dan justru mendoakan mereka agar segera mendapat hidayah.
2. Ketika ada seorang Badui yang datang nyelonong dan buang air kecil di dalam Masjid, Rasulullah saw. mendiamkannya, dan setelah ia selesai buang air kecil, barulah beliau memberi penjelasan baik-baik. Pada saat yang sama, Umar bin Khattab ra. sudah gemas hendak menebas leher orang tersebut.
3. Ketika membebaskan kota Mekkah, tidak ada orang yang dianiaya, meskipun di masa lalu mereka telah menyakiti Rasulullah saw. dan para pengikutnya sedemikian rupa.
4. Dalam setiap peperangan, Rasulullah saw. selalu berada di garis depan dan tidak pernah memperlihatkan keraguan. Bahkan para pengawalnya sendiri kerepotan menjaga beliau karena beliau begitu bersemangat menerjunkan dirinya ke medan tempur.
Setiap kejadian di atas adalah bentuk dakwah. Diamnya Rasulullah saw. terhadap penganiayaan di Thaif kemudian hari menjadi bukti kebesaran hati beliau. Tenangnya Rasulullah saw. melihat orang Badui yang kencing di dalam Masjid membuat semua orang paham bahwa beliau adalah orang yang amat sabar. Pembebasan kota Mekkah tanpa korban jiwa membuktikan sifat pemaafnya. Di sisi lain, kegagahannya di medan tempur pun adalah suatu bentuk dakwah, yaitu menunjukkan keteguhan seorang Muslim dalam menempuh bahaya. Empat hal di atas baru sebagian kecil contoh kasus yang dapat diambil pelajaran untuk bekal dakwah.
Kita tahu bahwa kencing di dalam Masjid itu adalah perbuatan yang kurang ajar, dan barangkali memang pelakunya memang pantas untuk dipukuli. Akan tetapi, Rasulullah saw. berpikir lebih jauh. Yang kotor dapat dibersihkan, namun orang Badui yang diserang beramai-ramai hatinya tidak akan mendekat pada Islam. Ketika diberi penjelasan dengan lembut, ternyata ia dapat menerimanya dengan baik, dan berhasillah dakwahnya dengan sedikit pengorbanan (yaitu kotornya Masjid).
Sekedar membedakan mana yang baik dan buruk saja tidaklah cukup. Kita harus menimbang segala aspek yang memungkinkan semakin mendekatnya para objek dakwah kepada Islam. Menariknya, terkadang para pendakwah sendiri lupa bahwa mereka seharusnya berusaha mendekatkan para objek dakwah ke jalan yang benar, bukannya malah menjatuhkan vonis dan membuat mereka merasa dimusuhi. Memang ada pihak-pihak tertentu yang sudah sedemikian kontra dengan Islam sehingga pantas dikategorikan sebagai musuh, namun tidak semuanya seperti itu. Perlu kebijaksanaan untuk mampu membedakan antara ‘kekhilafan’ dan ‘kesesatan’.
Para mahasiswa di Makassar pernah bentrok dengan para supir angkot. Para mahasiswa kerap kali berdemonstrasi pada pemerintah, namun hasil akhirnya justru membuat macet jalan-jalan, dan secara tidak langsung mengurangi rejeki para supir angkot. Seruan para mahasiswa dalam demonstrasi itu mungkin benar, namun caranya membuat orang-orang tidak simpati. Kalau metodenya tidak dikoreksi, maka ‘dakwah’ para mahasiswa itu akan lebih banyak gagal daripada berhasilnya.
Fenomena FPI juga merupakan kasus tipikal yang menunjukkan urgensi fiqh dakwah. Belum lama ini FPI bentrok (lagi) dengan Papernas, sebuah partai baru yang menurut kabar burung memiliki kedekatan dengan ideologi komunis. Sekonyong-konyong FPI berdiri pada kutub yang berlawanan. Setiap kegiatan Papernas yang diketahui massa pasti langsung dihadang oleh FPI.
Pada bentrok belum lama ini, FPI menyerang massa Papernas, termasuk merusak beberapa kendaraan umum yang disewa oleh Papernas untuk mengangkut kader-kadernya. Ujung-ujungnya, opini masyarakat berbelok dengan cepat, sehingga nyaris tak ada lagi yang mendengar seruan FPI yang menyatakan bahwa Papernas mesti dibubarkan karena berideologi komunis (terlepas benar-tidaknya klaim tersebut). Yang terlihat kini adalah FPI dengan brutalnya merusak bus-bus kota yang supirnya (barangkali) tak tahu apa-apa soal ideologi Papernas, dan tindakan FPI yang tidak jauh beda dengan pelajar Jakarta yang hobi tawuran.
Jika pola-pola ini diteruskan, sangat besar kemungkinan FPI akan menjadi bumerang bagi umat Islam. Niatnya mencari simpati, namun akhirnya malah mendapatkan caci-maki. Parahnya lagi, yang dicibir bukan hanya FPI, melainkan semua orang yang memperjuangkan Islam. Kejadian-kejadian semacam ini selalu dimanfaatkan oleh kaum sekularis untuk menyerang orang yang taat pada ajaran Islam.
Sekarang bagaimana? Mau terus mencoreng nama baik umat Islam, atau mau belajar fiqh dakwah bareng-bareng?
wassalaamu’alaikum wr. wb.

Menjadi Murabbiyah Sukses (Cahyadi Takariawan dan Ida Nur laila)

Tarbiyah islamiyah pada dasarnya melibatkan tiga unsur dalam waktu bersamaan, yakni teori, seni, dan sekaligus pengalaman. Dari sisi teori, sudah begitu banyak buku yang membicarakan tentang tarbiyah islamiyah, bahkan sangat lengkap dan detail, sebagaimana buku-buku karya Ustadz Dr. Ali Abdul Halim Mahmud. Akan tetapi, mentarbiyah bukanlah sekadar teori, di sana ada aspek seni dan juga pengalaman, yang memerlukan sentuhan khusus.

Dalam kaitannya dengan sisi-sisi seni mentarbiyah, akan banyak ragam yang menunjukkan karakteristik waktu dan tempat. Demikian pula dalam ranah pengalaman praktis di lapangan, sangat banyak ragam dan coraknya. Sayang sekali, pengalaman para murabbi dan murabbiyah dalam melakukan tugas tarbiyah belum banyak didialogkan dan ditulis.
Buku ini juga mengupas lebih detail tentang seluk-beluk dunia tarbiyah; prinsip-prinsip dasarnya, orientasinya, urgensinya bagi akhawat Muslimah, bagaimana proses awalnya, serta beragam kiat dan apa saja yang perlu dan harus dilakukan oleh para dan calon murabbiyah agar bisa memetik kesuksesan amal tarbiyah.
Dakwah bukanlah sekadar kewajiban, namun juga “pilihan.” Bersyukurlah oramg-orang yang memilih dakwah sebagai jalan hidupnya. Jalan dakwah sebagai pilihan bukan semata-mata lahir dari relung naluri, tabiat, dan bakat kemanusiaan saja, ia harus diyakini sebagai hidayah dari Allah. Kesadaran seperti inilah yang akan membuat kita yakin hidup ini akan senantiasa dibimbing petunjuk-petunjuk Allah.
Aktivitas kehidupan itulah cerminan aktivitas dakwah kita, yaitu melalui “Tarbiyah”. Lalu, bagaimana memulai tarbiyah?
Jawabannya adalah >> timbulkan “rasa ketertarikan”

>> Bagaimana menimbulkan ketertarikan?
• Keihlklasan anda
• Penampilan komunikasi anda
• Perhatian anda
• Keramahan dan kehangatan anda
• Keilmuan anda
• Posisi anda
• Senyum anda anda
• Bahasa

>> Siapakah yang akan dibina?
• Semua manusia memerlukan pembinaan
• Kemampuan dan potensi manusia berbeda-beda

>> Bagaimana melakukan pengelompokkan?
• Pengenalan kondisi umum mutarabbiyah
• Pengenalan latar belakang aktivitas mutarabbiyah
• Menentukkan kelompok

>> Proses memilihkan murabbiyah
• Keunggulan mustawa (tingkatan) ruhi, fikri, amali
• Kedekatan kondisi sosial ekonomi
• Kedekatan usia biologis
• Kedekatan lokasi
• Kedekatan kecenderungan kejiwaan

>> Bagaimana manhaj tarbiyah diaplikasikan?
• Pahami kondisi mutarabbiyah dengan baik
• Tentukanlah muwashafat yang belum terealisir pada mutarabbiyah
• Pilihlah, poin muwashafat yang hendak anda capai bersama mutarabbiyah
• Tentukan sarana tarbiyah yang sesuai untuk mencapai muwahafat tersebut

>> Persiapan menjadi murabbiyah
• Siapkan mental
• Siapkan ilmu
• Siapkan spiritualitas
• Siapkan akhlak Kemampuan khas murabbiyah
• Bahasa arab
• Bahasa Indonesia
• Menulis dengan huruf arab
• Menulis huruf latin
• Berbicara
• Beretorika
• Mendengarkan
• Menyegarkan suasana
• Berkomunikasi
• Bercerita
• Memimpin forum
• Merespon dan menyelesaikan masalah Memulai interaksi
• Membuat kontrak tarbiyah
• Membangun kepercayaan awal
• Membangun kedekatan
• Membangun komunikasi efektif
• Mintalah feedback dari mutarabbiyah

>> Yang jangan pernah dilakukan
• Bersikap kaku/kasar
• Melupakan nama
• Memotong pembicaraan
• Menegur langsung di hadapan akhawat yang lain
• Tidak mau menyempatkan mendengar curhatannya
• Tidak memberikan waktu untuknya
• Tidak menanggapi usulannya
• Tidak dialogis dalam mengelola forum
• Tidak pernah menanyakan kondisinya
• Tidak pernah memujinya
• Tidak mau mengakui kesalahan dan meminta maaf
• Ghibah

>> Perlengkapan bagi murabbiyah
• Quran
• Hadist arba’in
• Buku induk kumpulan paket materi tarbiyah
• Catatan materi
• Referensi induk
• Referensi rujukan
• Administrasi
• Media
• Transport
• Komunikasi

>> Pengelolaan Teknis
• Mengelola tempat pertemuan
• Kejelasan teknis pertemuan
• Menyiapkan perlengkapan teknis yang diperlukan di tempat acara
• Menyiapkan ruangan
• Pengaturan kedatangan
• Penjagaan ketertiban dan kerapian

>> Pengelolaan forum
Persiapan awal
• Pengecekan kehadiran
• Pengecekan kesiapan perlengkapan
• Penataan forum tarbiyah

>> Pengelolaan agenda forum tarbiyah
• Pembukaan
• Tilawah
• Kultum
• Penyampaian materi
• Diskusi
• Syura
• Taklimat
• Kesimpulan
• Penutup
• Infaq
• Pengecekan syiar dan hafalan

>> Kegiatan tarqiyah bersama
• Mabit atau jalsah ruhiyah
• Diskusi atau bedah buku
• Daurah ilmiyah tsaqafiyah
• Kursus bahasa arab
• Dauroh manajemen dan lifeskill
• Riyadhah
• Mukhayam
• Rihlah
• Silaturahim
• Shalat fardhu berjamaah
• I’tikaf ramadhan
• Membagi hadiah Kegiatan tadribiyah
• Kegiatan munasharah atau pembelaan terhadap kaum muslimin
• Kegiatan muzhaharah atau demonstrasi
• Kegiatan kepanitiaan
• Mengisi daurah
• Aktivitas organisasi
• Mengelola halaqoh tarbawiyah
• Keterlibatan dalam dakwah amah

>> Tips :
• Membangun keterbukaan
• Hidupkan suasana diskusi
• Libatkan mereka dalam program halaqah
• Variasikan kegiatan halaqah
• Libatkan mereka dengan acara-acara keislaman
• Libatkan dalam aktivitas amal jama’i
• Jangan terlalu banyak memberi beban

Menarik simpati para binaan dalam awal-awal mentoring sangat dipengaruhi oleh kondisi keimanan Anda sebagai murobbi, guru atau pendidik. Dimulai dari kepribadian Anda. Akhlak dan sikap Anda lebih diperhatikan oleh binaan daripada pengetahuan Anda tentang materi yang sedang disampaikan. Lebih penting daripada keahlian Anda berbicara. Bahkan lebih penting daripada apa yang Anda sampaikan. Faktanya, kepribadian Anda menentukan 80% kesuksesan dalam menarik simpati mereka.
Kesalahan terbesar jika Anda berpikir bahwa dakwah membutuhkan Anda. Dari kali pertama Anda bergabung dengan kafilah dakwah sampai akhir hayat, Andalah yang membutuhkan dakwah. Jangan pernah merasa berjasa kepada dakwah, jangan berpikir dakwah ini berhutang budi karena aktivitas Anda. Barangsiapa berbuat baik, maka itu untuk dirinya sendiri. Bersyukurlah jika Allah masih memberikan kenikmatan dalam berdakwah pada diri Anda. Semakin Anda bersyukur, maka Allah akan semakin menambah nikmat Nya.
Katakan pada diri Anda sendiri bahwa Anda akan berjuang dan terus bersama dakwah sampai kapanpun. Jika ada 100 orang yang berjuang, pastikan Anda termasuk di dalamnya. Jika ada 10 orang yang berjuang, pastikan Anda termasuk di dalamnya. Jika ada 1 orang yang berjuang, pastikan bahwa orang itu adalah Anda.
Salah satu rahasia kesuksesan adalah melakukan apa yang Anda cintai. Menjadi murobbi sukses berarti menjadi orang yang terus berkomitmen dalam dakwah, komitmen dalam meningkatkan kapasitas diri, dan peduli pada binaan. Memberikan perhatian sekecil apapun kepada binaan, sangat besar dampak positifnya. Anda adalah murobbi dalam setiap waktu, bukan hanya sepekan sekali. Anda adalah murobbi bagi diri Anda sendiri, keluarga, binaan, dan orang-orang di sekitar Anda.
Karena membina adalah “FLASH – TRACK” (red: jalan tercepat) menuju Syurga-Nya
(ungkap seorang trainer mentoring Bogor; Bp. Sri Mudji, dalam Dauroh Mentoring, 28 Mei 2011)
Selamat membina!
Wallohu aâlam bish showab

Kamis, 16 Juni 2011

".........................................................................."

(ungkapan hati seseorang yang sahabatnya harus pergi)

Sedih…
Itu yang kurasakan..
Bismillah......
Aku menulis ini..bukan tanpa alasan..aku menulis untuk mengungkapkan kesedihan yang telah ku alami..

Sedih sekali...
Bila teman...saudara.... yang sangat kita sayangi harus pergi meninggalkan kita...
Tidak hanya satu..namun satu persatu semua pergi....
Sedih..
Sedih..
Dan sakit sekali...

Itu yang sedang ku rasakan..

Tapi sunggung ikhwah..aku tidak ingin menjadi penghambat kalian dalam berkarya....dalam menyelesaikan amanah kalian di bidang akademik..sungguh...
Namun entah mengapa aku begitu tidak rela....
bukan apa – apa...bukan karena ku iri..
Sungguh bukan itu...
Aku sama sekali tidak iri jika memang harus kalian yang pergi dahulu dari tempat ini..

Tapi yang sungguh aku takutkan ketika kalian pergi adalah...
aku sendiri...
Aku tidak ingin sendiri..
Aku tidak ingin!
Ingin rasanya aku teriakkan itu di telinga kalian agar kalian mengerti...
agar kalian tahu apa isi hati ku saat ini....

Tahukah kalian...aku menangis...aku menangis sejadi – jadinya...ketika mendengar kalian akan pergi..mendengar kalian akan pergi dari sini...
Padahal kita memulainya bersama-sama... padahal kita mendakinya bersama – sama....namun mengapa kalian memilih meninggalkan aku menjalani ini sendiri sampai akhir....bukankah kita teman seperjuangan...bukankah kita teman seperjalanan....
tetapi kenapa tak kau selesaikan perjalanan ini sampai akhir kawan....
kenapa??? kenapa???? kenapa?????
Pertanyaan itu selalu teringiang – ngiang di kepalaku...

Teringat perkataan seorang sahabat bahwa kita harus berjiwa besar..
Yah..pada akhirnya aku harus merelakan kalian...
Pada akhirnya aku pun tidak mampu memaksa kalian untuk merubah keputusan kalian untuk pergi...
Aku tahu kalian sudah dewasa..
aku tahu..kalian sudah tahu bagaimana memilih mana yang baik dan mana yang terbaik untuk diri kalian juga untuk dakwah.. . .terutama dakwah kampus... .
Aku tahu....
kalian manusia luar biasa..
kalian orang yang hebat...
dan tak akan ada yang bisa menggantikan kalian di posisi ini..
Namun sudah menjadi sunnatullah bila ada yang pergi pasti akan ada yang menggantikan..
Seorang murabi pernah berkata pada ku bahwa ”ketika seorang aktivis ada yang pergi untuk urusan yang lain, pasti akan ada yang mengantikan..kader banyak..jadi tidak perlu khawatir..”
Walaupun aku tidak mempercayai sepenuhnya..tapi aku berusaha untuk yakin..
walaupun tidak akan ada yang menggantikannya...
tapi aku berjanji,,aku akan menyelesaikan perjalanan ini sampai akhir..aku akan menyelesaikannya sampai di akhir garis finish..tak peduli walaupun harus sendiri..walaupun semuanya memutuskan untuk pergi satu per satu...
Itu Janjiku!

Pergilah kawan..pergilah...
Kejarlah cita – citamu...
Kejarlan apa yang memang kalian inginkan..
Kejarlah...
Laksanakanlah....
Suatu hari aku akan menyusul kalian...
Suatu hari nanti..
Aku pasti juga akan terbang seperti kalian...
Aku janji!
Segera!
Setelah aku menyelesaikan ini...
Aku akan segera menyusul kalian juga untuk pergi...
SEGERA!
Setelah perjalanan ini tiba di akhir garis finish!

menuju jamiatul muslimin...

Tidak pernah ada peradaban yang berkembang tanpa dukungan struktural yang kokoh. Setiap peradaban hampir selalu melalui tiga fase besar untuk berkembang. Pertama, fase perumusan ideologi dan pemikiran; kedua, fase strukturalisasi; dan ketiga, fase perluasan (ekspansi). Ideologi-ideologi besar semuanya mengalami tiga fase tersebut. Lihatlah Komunisme, Kapitalisme Barat, dan tak boleh dilupakan: Zionisme Internasional.


Jika kebangunan (peradaban) Islam modern telah dimulai secara individu oleh para tokoh dan pemikir seperti Sayyid Jamaluddin al-Afghani, Dr. Muh. Iqbal, Muh. Abduh, Muh. Rasyid Ridha, dan seterusnya, maka rintisan pemikiran yang bersifat individual itu disambut secara lebih tertata, diantaranya dua tokoh pemuka da'wah yang tidak bisa dilupakan jika berbicara tentang kebangkitan Islam, yaitu Abul A'la Maududi dengan Jama'at Islaminya, dan asy-Syahid Hasan al Banna dengan Ikhwanul Musliminnya.


Dua pemuka inilah yang meletakkan dasar-dasar struktural gerakan kebangkitan Islam. Keduanya memiliki gagasan dasar yang sama. Bahwa kejayaan Islam dan mengembalikan Kekhilafahan Islam harus dimulai dari bawah, artinya persoalan aqidah yang kokoh, pemahaman syariah yang menyeluruh, dan pembenahan akhlaq yang benar. Pembenahannya harus dimulai dari tingkat individu, keluarga, masyarakat, negeri, dan barulah khilafah Islamiyah. Kedua tokoh itu pun punya perbedaan sedikit. Maududi dengan Jama'at Islaminya banyak menunjukkan figurisme Maududi dan lemah dalam kaderisasi. Maududi lebih banyak berceramah dan menulis buku daripada 'mencetak' kader.

Begitu pula pergerakannya yang terbatas di anak benua India-Pakistan. Sedangkan pada Ikhwanul Muslimin, meski asy-Sahid Hassan al Banna adalah tokok utama, tetapi tidak menyebabkan munculnya figurisme. Wibawa Ikhwanul Muslimin tidak berkurang dengan meninggalnya Hassan al-Banna. Pergerakannya meluas ke hampir seluruh dunia. Sekurang-kurangnya pengaruh pemikirannya. Beliau lebih 'mencetak' orang daripada menulis buku. Dari para muridnya, muncullah pemikiran-pemikiran yang luar biasa. Bisa diambil contoh, Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, Hassan al-Hudaibi, Umar Tilmisani, Dr. Yusuf Qordhowi, Musthafa Masyhur, Dr. Ali Juraishah, Syeikh Ahmad Qaththan, Dr. Musthafa as-Siba'io, dan lain-lainnya. Hassan al Banna dalam usianya yang pendek yaitu 43 tahun, memang terlalu singkat untuk sampai pada figurisme. Beliau seolah-olah hidup dan dilahirkan di bumi ini untuk memulai dan meletakkan dasar-dasar pergerakan dan da'wah Islam yang asli yang telah hilang di kalangan kaum Muslimin pada abad modern. Metode pergerakannya terus dikembangkan oleh para muridnya tanpa rasa khawatir akan kehilangan originalitas itu sendiri.

Sementara itu, gelombang kebangkitan Islam terus bergerak dengan tantangan-tantangan yang semakin berat. Fenomena kebangkitan Islam muncul di seluruh dunia. Palestina, tanah waqaf Islam, dari sanalah semangat jihad ditiupkan sampai hari kiamat. Tiupan itu menumbuhkan Gerakan Intifadhah, gerakan yang sulit ditumpas oleh Israel dibanding perlawanan negara-negara Arab, Islamic Trend Movement di Tunisia, Front Keselamatan Islam di Aljazair, Ikhwanul Muslimin di Jordan, dan perjuangan Mujahidin Afghanistan yang berjuang mengusir tentara Sovyet. Kebangkitan Islam juga diwarnai dengan berbagai pusat-pusat studi Islam di Barat dan penerbitan buku-buku Islam yang terus membanjir. Kenyataan ini tentu membangkitkan optimisme, meski tidak menutup mata terhadap meningkatnya sekularisme dalam berbagai aspek kehidupan.

Fenomena kebangkitan Islam di Indonesia juga ditandai dengan beberapa hal yang menarik dikaji. Di kota-kota besar, di kampus-kampus, di sebagian kelas menengah, mereka mulai 'belajar' Islam. Isu pembangunan yang dimulai tahun 70-an dan membawa dampak medernisasi dan sekularisme membuat terjadinya arus balik pada tahun 80-an. Mungkin ekses pembangunan yang mengandalkan pertumbuhan ekonomi menyebabkan manusia kekeringan spiritual. Ini yang menyebabkan munculnya berbagai kajian tentang Islam dengan berbagai modelnya. Fenomena lain sebelum tahun 80-an, jika berbicara tentang Islam dan gerakannya maka orang akan menoleh ke organisasi-organisasi Islam atau partai politik Islam seperti PPP, NU, Muhammadiyah, HMI, PII, dan seterusnya.

Seolah-olah yang punya Islam dan dakwahnya hanyalah mereka. Gejala ini mulai mencair menjelang tahun 80-an. Memang nasib dakwah Islam tidak bisa diserahkan hanya pada organisasi atau partai politik Islam. Di sisi lain muncul kenyataan: organisasi-organisasi itu semakin kurang cekatan dalam merespons aspirasi-aspirasi Islam. Dalam beberapa segi terjadi beberapa 'keletihan' (fatigue) karena kurangnya terobosan-terobosan pemikiran yang strategis. Organisasi-organisasi itu mulai digugat oleh sebagian pendukungnya karena semakin kabur dalam menentukan tujuan akhir yang hendak dicapai. Bahkan di kalangan kampus, HMI kurang mendapatkan pasaran bagi mahasiswa yang mau aktif dan mendalami Islam. Juga tidak menutup mata tentang gerak organisasi-organisasi tersebut semakin terbatas. Oleh karenanya muncul kesadaran baru bahwa dakwah Islam bukanlah monopoli ormas dan orpol Islam, tetapi menjadi kewajiban setiap individu Muslim. Apakah ia bergabung atau tidak dalam organisasi tersebut sementara dakwah yang dilakukan secara bebas dalam kelompok-kelompok kecil, yayasan-yayasan terasa lebih lincah. Kritik lain terhadap ormas-orpol Islam itu antara lain: gaya kerja dan manajemen yang 'agak kebarat-baratan' yang melonggarkan nilai-nilai agama yang mereka canangkan sendiri sebagai doktrin. Misalnya, pemahamannya tentang demokrasi yang cenderung liberal.


Gejala ini memunculkan kecendurungan baru, munculnya isu 'jama'ah'. Terdapat dua kecendurungan yang saling bertentangan. Satu pihak, mereka yang alergi dengan isu 'jama'ah'. Biasanya mereka yang sudah mapan aktifitas dalam ormas-ormas Islam, atau karena kepentingan politiknya sehingga menganggap isu 'jama'ah' itu adalah isu politik. Atau mereka yang sudah merasa cukup dengan mengartikan bahwa perintah berjama'ah itu sudah dilaksanakan dengan melalui ormas-ormas itu. Di pihak lain, mereka menganggap ormas-ormas itu 'bukanlah jama'ah' sebagaimana yang dimaksudkan oleh Rasulullah saw., baik karena kelakuan, cara berfikir anggota pendukungnya, ataupun karena mekanisme yang tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah.


Gejala lain adalah munculnya fenomena sempalan. Sebab utamanya bisa diduga karena tersumbatnya aspirasi utama kaum Muslimin. Aspirasi utama (mainstream) - karena halangan politis dan birokratis - menyebab-kan aspirasi-aspirasi murni Islam tidak tertampung sehingga muncullah gerakan sempalan, baik di bidang ideologi, pemikiran syari'ah, maupun pola-pola pergerakan.


Melihat kecendurungan di atas, maka harus ada kajian secara mendalam dan dewasa. Dan, untuk itulah buku ini ditulis.

Kandungan Buku

Buku ini terdiri atas tiga bab atau bagian utama. Bagian pertama, menjelaskan mengenai Haikal Jama’atul Muslimin (Struktur Organisasi Jama’atul Muslimin). Dalam bab ini, al-Ustadz Husain Jabir telah berusaha menjelaskan secara konsepsional berdasar tinjauan syari'at Islam yang menunjukkan betapa pentingnya wujud sebuah Jama’atul Muslimin. Ia awali pembahasannya dengan mengupas makna umat Islam, baik dari bahasa maupun geografis. Kemudian ia lanjutkan dengan membahas mengenai urgensi syura sebagai lambang tertinggi yang darinya lahir berbagai kebijaksanaan sebagai manifestasi political will umat Islam. Sejalan dengan itu tak mungkin terwujud sebuah syura berskala global, meliputi seluruh umat tanpa adanya imamah atau sistem kepemimpinan.

Dalam membahas fasal ini, penulis telah menjelaskan bahwa yang terpenting adalah mewujudkan dan menjaga imamah-nya (kepemimpinan), bukan masalah siapa yang menjadi imam. Artinya bisa saja sang imam bukan berasal dari keturunan Quraisy, asalkan ia memiliki kelayakan sebagai pemimpin umat. Penulis berpendapat bahwa manakala kesatuan umat Islam dengan segala karakteristik positifnya telah terbentuk, ditambah lagi adanya lembaga syura yang berjalan di dalam kerangka sebuah imamah, berarti pada saat itulah sebuah Jama'atul Muslimin telah eksis dengan segala makna hakikinya. Oleh karenanya, bagian pertama ini ia akhiri dengan membahas secara khusus tujuan Jama'atul Muslimin, baik tujuan khusus maupun tujuan umum, apalagi di masa kini, di mana sebagian kaum Muslimin lalai terhadapnya. Maka kami merasa perlu untuk membicarakannya di sini.

Menurut al-Ustadz Husain jabir rahimahullah terdapat empat tujuan khusus jama’atul Muslimin, yaitu:
1. Pembentukan pribadi-pribadi Muslim (binaa’al-fard al-muslim)
2. Pembentukan rumah tangga Muslim (binaa’al-usrah-al-Muslimah)
3. Pembentukan masyarakat Muslim (binaa’al-mujtama’al-Muslim)
4. Penyatuan umat Muslim (Tauhid al-ummah al-Islamiyah)


Adapun tujuan umum Jama’atul Muslimin, menurut penulis buku ini, ada enam, yaitu:

1. Agar seluruh manusia mengabdi kepada Rabb Nya yang Maha Esa
2. Agar senantiasa memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar
3. Agar menyampaikan dakwah Islam kepada segenap umat Manusia
4. Agar menghapuskan fitnah dari segenap muka bumi
5. Agar memerangi segenap umat Manusia sehingga mereka bersaksi dengan persaksian yang benar (syahadatain)


Olehnya, dapatlah kita fahami mengapa ketika penulis menguraikan pendahuluan dari buku ini, beliau mengajukan sebuah pertanyaan: "Adakah Jama'atul Muslimin di dunia sekarang ini?" Dan kemudian beliau sendiri menyimpulkan jawabannya bahwa berbagai pemerintahan Islam yang ada saat ini tidak satu pun yang memenuhi persepsi konsepsional mengenai Jama'atul Muslimin yang dicita-citakan oleh setiap muslim yang cinta akan kemuliaan Islam dan kaum muslimin.


Maka di dalam bagian kedua bukunya, penulis melanjutkan bahasannya dengan judul ath-Thariq ila Jama’atil Muslimin (Jalan Menuju Jama’atul Muslimin). Bagian kedua ini sedemikian pentingnya sehingga penulis menjadikanya tema sentral, bahkan menjadikan judul buku ini secara keseluruhan. Bagian kedua ini diawali dengan pembahasan mengenai fasal al-ahkam al-Islamiyah (Hukum-hukum Islam).

Sebagaimana kita ketahui dewasa ini kebanyakan manusia, termasuk kaum Muslimin, mempunyai persepsi keliru mengenai hukum-hukum Islam. Ada kesan seolah-olah hukum Islam merupakan aturan yang kuno, bahkan tidak sedikit yang berpendapat bahwa ia merupakan hukum yang sadis, kejam, dan tidak manusiawi. Apalagi setelah berbagai putusan pengadilan di beberapa negeri muslim yang memberlakukan hukum pidana Islam kemudian menjatuhkan vonis rajam bagi pezina, atau potong tangan bagi para pencuri, lalu hal ini diekspose oleh berbagai surat kabar dan majalah dengan suatu pendekatan anti Islam yang semakin memperkokoh kesalahpahaman umat manusia akan hakikat serta keadilan hukum Islam. Mengapa hal ini terjadi?


Sebab pokoknya adalah karena sebagian besar negeri-negeri yang menerapkan hukum-hukum Islam tidak memahami, apalagi mengaplikasikan syumuliyah (totalitas) ajaran Islam sebagai way of life atau minhaj al-hayah. Itulah alasannya mengapa penulis buku menganggap perlu menyisipkan bahasan yang diberi judul "Tidak ada Sektoralisasi dalam Hukum Islam." Manakala Islam dipahami secara syamil, niscaya penerpaan ajaran Islam akan mencakup tidak saja hukum pidana, melainkan juga pemberlakuan ideologi Islam di negara yang bersangkutan.

Demikian pula berbagai aspek kehidupan lainnya, seperti di bidang politik, sosial budaya, ekonomi, pertahanan dan keamanan, serta hubungan internasional. Semua akan diselenggarakan berdasarkan dan sesuai nafas ajaran Allah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, al-Islam. Adapun sekarang, apakah yang kita saksikan di tengah kebanyakan negeri-negeri berpenduduk mayoritas muslim?

Di satu segi ada semangat untuk tetap memelihara warisan suci ajaran Islam, terutama di bidang ibadah praktis atau hukum pidana Islam, namun di sisi lain kita melihat bagaimana berbagai aspek kehidupan selepas itu diatur oleh ajaran-ajaran produk manusia yang sudah barang tentu mengandung banyak ketidaksempurnaan! Di satu sisi, semangat untuk memotong tangan sebagai sanksi bagi para pencuri terus ditumbuhkan, namun di sisi lain pengelolaan zakat sebagai landasan di dalam masyarakat tidak ditangani secara serius. Atau hukum rajam bagi para pezina ingin diterapkan, tetapi berbagai film-film seronok, majalah dan bacaan-bacaan cabul merambah dengan leluasa di tengah kaum muda umat. Inilah peringatan Allah yang jelas tertera dalam Al-Qur'an:

Apakah kamu beriman kepada sebagaian al-kitab (Qur'an) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang berbuat demikian daripadamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. Pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada sisksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (QS. Al-Baqarah : 85)


Ajaran Islam bersifat syamil-kamil-mutakamil (menyeluruh, sempurna, dan saling menyempurnakan). Sedangkan Muslim memiliki al-qudrah al-juz’iyyah al-mahdudah (kemampuan sektoral dan terbatas). Oleh karenanya tidak mungkin Islam akan tertegak secara utuh manakala kaum muslimin menerapkannya secara individual. Ia mestilah diterapkan secara jama'i (kolektif). Harus ada suatu upaya ‘amal jama’i agar kesempurnaan Islam dapat terealisasi dalam kehidupan kolektif kaum Muslimin. Sedangkan kehidupan amal jama’i tidak akan mungkin terwujudkan dengan sempurna kecuali setelah terbentuknya sebuah tatanan dakwah yang memadai. Tatanan dakwah inilah yang merupakan fokus pembahasan penulis.


Maka di dalam fasal berikutnya penulis melanjutkan pembahasannya dengan menguraikan "langkah pertama Rasulullah SAW dalam Membina Jama'ah". Setelah itu beliau membahas "Rambu-rambu dari sirah Nabi dalam Menegakkan Jama’ah" yang berisi enam karakteristik pokok sebuah jamaah, antara lain:

* Nasyr mabaadi’ ad-da’wah (menyebarkan prinsip-prinsip dakwah)

* At-takwin ‘alaa ad-da’wah (Pembentukan Dakwah)

* Al-mujabahah al-Musallahah (konfrontasi bersenjata)

* Al-sirriyah fi binaa’al-jama’ah (sirriyah dalam membina jama’ah)

* Ash-shabru’ala al-adza (bersabar atas gangguan musuh)

* Al-Ib’aad ‘an saahah al-ma’rakah (menghindari medan pertempuran)

Kemudian bagian dua ditutup dengan membahas "Tabi’at Jalan Menuju Jama’atul Muslim". Dan yang terpenting kita catat adalah berbagai contoh sepanjang perjalanan sejarah dakwah yang telah diuraikan secara baik sekali oleh al-Ustadz Husain Jabir.


Di dalam bahasan ketiga, penulis membahas bab berjudul "al-jama’ah al-Islamiyah al-‘Amilah fii Haql ad-Da’wah al-Islamiyyah" (beberapa Jamaah Islam di Medan Dakwah). Beliau mengangkat beberapa kasus dalam realitas dunia dakwah dewasa ini, sebelum langsung membahas satu per satu jamaah Islam yang ada, penulis mengawali tulisannya dengan fasal "Kondisi Amal Islami setelah Jatuhnya Khilafah Utsmaniyah".

Penulis mengambil empat Jamaah sebagai sampel pembahasan. Masing-masing mewakili kecenderungan berbeda.

Pertama, Jama'ah Anshor as-Sunnah al-Muhammadiyah, berdiri dan berkembang di Mesir. Jama'ah ini mewakili gerakan dakwah yang berorientasi pada seruan sosial dan ilmu pengetahuan (ijtimaiyyah wa ats-tsaqofah). Sering pula di sebut sebagi gerakan Salafi.

Kedua, Jama'ah Tabligh, yang lahir di India. Jamaah ini mewakili gerakan dakwah yang berorientasi pada seruan sufiyyah.

Ketiga, Jama’ah Hizb at-Tahrir yang lahir dan bermula di Yordania. Jamaah ini berorientasi pada seruan Politik (as-siyasi).


Keempat, Jama'ah al-Ikhwan al-Muslimun yang didirikan di Mesir. Penulis menganggap bahwa jama'ah ini mewakili gerkan dakwah yang memiliki karakteristik Syamil (Menyeluruh). Tidak hanya memperhatikan aspek sosial dan ilmu pengetahuan semata, melainkan juga aspek sufiyyah dan aspek siasiyyah, bahkan juga meliputi aspek harakiyyah dan jihadiyyah (pergerakan dan Jihad).

[Sumber: Dr. Salim Segaf al-Jufri, Kata Pengantar buku Menuju Jama'atul Muslimin]

Rabu, 25 Mei 2011

ikhlas dalam beramal...

Ikhlas dalam beramal..
”Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niatnya dan sesungguhnya bagi seseorang itu apa yang diniatkannya..”
Ikhlas.. satu kata yang mudah untuk di ucapkan.. satu kata yang begitu mudah dilisankan. . kita sering mengumbar kata ikhlas..
”gw iklhas koq..”
”tenang aja ukh/akh..ana ikhlas..silahkan untuk antum saja...”
Mudah sekali bukan ketika kita mengucapkannya..
Namun apakah ikhlas perlu kia ungkapkan??? apakah ikhlas harus kita ungkapkan apabila memang kita benar – benar ikhlas???
I-K-H-L-A-S...5 huruf yang mungkin adalah bukan hal yang mudah ketika kita maknai secara mendalam..
Ikhlas. .apa sebenarnya ikhlas itu ???
Ikhlas berkaitan dengan niat. Ikhlas identik dengan kegiatan membersihkan dan memisahkan dari sesuatu yang kotor menjadi bersih.
Ikhlas bukan hanya retrotika. Makna ikhlas lebih mendalam dan memaku di jiwa seorang muslim dan di dalam gerakan kita dimanapun berada.
Sebagai seorang aktivis dakwah, dalam melakukan aktivitas beramal maka diperlukan niat yang tulus dan ikhlas semata hanya untuk Allah. Kita harus memaknai ikhlas sedalam mungkin dan sejalan dengan aktivitas beramal kita. Ada beberapa hal yang harus kita pahami, diantaranya yaitu :
1. ikhlas menjadi bagian yang tidak terpisahkan
2. ikhlas masuk ke dalam pemikiran kita dan memberikan ide kreatif dengan dakwah kita
3. ikhlas dalam memandang segala permasalahan dengan jernih
4. ikhlas dalam melaksanakan tanggung jawab
5. ikhlas adalah kata yang memiliki makna mendalam sejalan dengan niat yang kita tuju dalam beramal.

Motivasi awal dalam beramal adalah meraih ridho Allah SWT. Kita harus ikhlas sampai Allah memberikan kemenangan bagi dakwah ini..

Semangat Aktivis Dakwah!!
Allahu Akbaru!!!

kesatuan langkah dalam beramal

Kesatuan Langkah Dalam Beramal
Dalam melakukan aktivitas kebaikan yaitu beramal, kita tidaklah sendiri melainkan dilakukan dengan jama’i..yaitu bersama – sama..
Mari kita buka Al-Qur’an surat As-Saff (1-14)
Tujuan yang termuat dalam surat As-Saff adalah
1. penegasan di dalam hati seorang muslim bahwa agama Islam merupakan manhaj illahi bagi seluruh manusia.dalam bentk yang teratur dan harus menjadi satu – satunya agama yang efektif di muka bumi.
2. membangun perasaan seorang mukmin akan tanggung jawab, amanah yang membawa kepada niat yang jujur dalam berjuangn menegakkan agama Allah dan tidak terjadi ketimpangan antara perkataan dan perbuatan

kandungan yang terkandung dalam surat As-Saf adalah :
1. Wajib pertahankan agama dalam barisan yang teratur.
Amanah harus dikerjakan dengan perbuatan, apa yang kita katakan maka harus kita lakukan juga. Janganlah kita menyuruh orang, namun kita tidak melakukannya..
QS.As-Saff : 2 = Alah bertanya dengan peringatan
QS.As-Saff : 3 = Allah membenci orang – orang yang mengatakan apa yang tidak dikerjakan
QS.As-Saff : 4 = Allah memberikan kabar gembira
QS.As-Saff : 6 = kejahatan Bani Israil terhadap musa, mereka tidak mengindahkan apa yang dikatakan oleh nabi Musa
Ibrohnya : Jujur dan beristiqomahla!
2. Kemenangan yang diperoleh dengan pengorbanan (As-Saff : 10 - 13)
Seruan itu di awali dengan orang – orang yang beriman..
Kenikmatan yang luar biasa adalah dimasukkan ke dalam surga...
Mengerjakan perintah Allah merupakan pengorbanan dan mendapat kan kemenangan merupakan bentuk kenikmatan..

Kamis, 21 April 2011

refleksi akhir tahun...

” Sebuah Refleksi Akhir Tahun ”
Assalamu’alaikum Wr Wb
Bismilahirrahmannirrahim

Suatu hari saya pernah mendengar sebuah cerita yang sangat unik,,unik karena saya bingung sebenarnya ini lucu atau tidak,, tapi cukup membuat kepala saya geleng – geleng...
Ceritanya begini...
Jadi, suatu hari teman saya ini pernah ditanya oleh salah seorang temannya tentang keaktifan sebuah organisasi.
” Koq ” ” sekarang gak aktif ci?? Gak keliatan...” Tanyanya
Temen – temen tau apa jawaban teman saya itu....Cukup simpel jawaban teman saya,,gak neko – neko..
”Kemarin milih sapa?” jawab teman saya sambil melemparkan sebuah pertanyaan.

Sungguh jawaban itu membuat temannya tercengang sampai tidak tahu harus berkata apa lagi.

Ketika saya mendengar cerita itu pun saya hanya tersenyum simpul. Hingga akhirnya membuat saya berpikir tentang arti sebuah organisasi dan pemimpin.

Betapa pentingnya arti seorang pemimpin bagi sebuah organisasi. Ibaratnya tubuh ini, apabila kita tidak memiliki kepala, maka kita tidak akan bisa hidup atau apabila ada yang salah dengan kepala kita, tentunya arah hidup kita tidak tahu akan kemana/jadi ngawur. Semua tergantung kepala, kalo isi kepalanya gak bener ya arahnya juga jadi gak bener. Semuanya ada di kepala..

Seorang pemimpin dipilih untuk memimpin anak buahnya dan organisasinya. Seorang pemimpin bukan untuk duduk santai melihat kinerja staffnya. Atau hanya bisa menyuruh tanpa berbuat. Atau membuat keputusan tanpa dipikir. Atau menginginkan hasil yang baik tapi tidak mau menjalani sebuah proses. Atau ingin dihormati tapi tidak mau menghormati staffnya. Atau ingin didengar tapi tidak mau mendengarkan staffnya berbicara. Atau ingin berhasil tapi menyalahi aturan.

Ffiiuhhh....

Tidak mudah menjadi seorang pemimpin...
Siapa yang bilang itu gampang....

Sulit???
Tentu saja sulit....
Bukan hal yang mudah tapi kita juga jangan mempersulitnya.

Jalankan saja??
Ya tdak bisa..
Memang semudah itu untuk dijalankan saja?? Tanpa ada bekal???

Ck..ck..ck..ck..ck...

Seorang pemimpin harus belajar. Belajar dari orang lain. Belajar dari pengalaman. Belajar berdiskusi. Dan Belajar memimpin.

Ada hadits yang berbunyi ”sebuah negeri tergantung dari pemimpinnya, apabila pemimpinnya tidak baik, maka kehancuranlah yang didapat”

Hei...lihatlah teman..Allah sekali – kali tidak pernah menipu kita...silahkan baca,,bila pemimpin itu tidak baik maka kehancuranlah yang akan datang..naudzubillahimindzalik..
Semoga Allah selalu melindungi kita....

Maka sebuah organisasi ini tergantung pemimpinnya. Bukan berarti staff tidak penting. Staff tentu saja penitng. Tidak bisa seorang ketua berdiri sendiri tanpa ada staffnya. Tidak bisa dia menjalankan seorang diri tanpa ada yang membantu. Tidak bisa!.
Lalu bagaimana bila....
Bila pemimpin dikatator???
Bila pemimpin sidah tidak benar???
Bila pemimpintidak mau mendengarkan staffnya???
Bila pemimpin hanya teriak – teriak saja???
Bila pemimpin hanya memerintah saja???
Bila pemimpin hanya ongkang-ongkang kaki saja???
Bila pemimpin sudah tidak mau menjalankan mekanisme rapat???
Bila pemimpin tidak percaya staffnya??
Bila pemimpin membuat rencana sendiri??
Bila pemimpin sudah tidak peduli???
Bila pemimpin tidak mau bertanggung jawab???

Tinggalkan saja!!
Ganti pemimpin yang lain!!!!!!

Itu cara yang mudah.

Lalu apa kita mau seperti itu???

Maka ketika ingin menanyakan tentang eksistensi sebuah oraganisasi, maka tanyakanlah pada diri sendiri lalu pada sang pemimpin, sang ketua. Bukankah itu pemimpin yang diinginkan?? Bukankah itu pemimpin yang inginnya memimpin?? Bukankah itu pemimpin yang selama ini dicari??

Benarkah???

Mungkin bila ada yang bertanya pada saya tentang eksistensi organisasi, maka jawaban saya sama seperti jawaban teman saya. ^_^

Wallahualam bi shawab

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Selasa, 19 April 2011

Bismillah…

Buku membina angkatan mujahid karya Sa’id Hawwa merupakan buku yang memuat menganai analisis konsep dakwah Hasan Al Banna. Ibaratnya buku ini adalah tafsir dari buku Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin. Membaca buku ini bagaikan mengingat kembali akan saat kita membaca buku Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin. Kembali mengingatkan komitmen kita sebagai Aktivis dakwah akan peran – peran yang sudah kita lakukan selama ini. Buku ini menjelaskan secara rinci hal – hal yang termuat dalam buku Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin.

Buku Membina Angkatan Mujahid terdiri dari 9 Bab. Bab Pertama kita akan disuguhi kenangan seputar Hasan Al Banna. Pada Bab kedua penulis menjelaskan tentang kunci memahami dakwah ikhwanul muslimin. Pada Bab ketiga kita akan diingatkan oleh penulis tentang sebuah tanggung jawab besar sebagai seorang akh. Pada bab keempat penulis menjabarkan tujuan konsep dakwah Hasan Al Banna. Pada bab kelima penulis menjelaskan mengenai sarana yang dapat dillakukan untuk mewujudkan tujuan besar kita. Selain itu pada bab keenam penulis juga menjelaskan tentang tahapan – tahapan dakwah secara terperinci. Di bab ketujuh, penulis memberikan penjelasan detail mengenai risalah ta’lim. Pada bab kedelapan penulis menuliskan mengenai kewajiban – kewajiban seorang mujahid yang dijabarkan sebanyak 40. Sedangkan pada bab terkahir yaitu bab kesembilan mengenai penjelasan pelengkap mengenai konsep dasar Dakwah Ikhawanul Muslimin.

Bismillah...pada artikel ini ana akan menjelaskan secara singkat mengenai buku Membina Angkatan Mujahid. Saat membaca buku ini banyak kalimat yang dapat membuat kita tersentak. Mencoba merenungkan kembali apa yang sudah dipahami selama ini. Salah satu yang akan saya angkat pertama kali adalah kalimat dalam bagian pendahuluan...
“ Banyak angkatan muda islam yang tidak mengenal Hasan Al – Banna dengan fiktah dan dakwahnya.”
Kalimat ini memang benar adanya, bahkan mungkin kita yang mengaku sebagai Aktivis dakwah sangat tidak memahami atau bahkan mengenal sosok peletak gerakan islam kontemporer sang pioneer Hasan Al Banna. Patut di sadari bahwa angkatan muda saat ini yang sering berkoar – koar, melakukan tetrorika dengan sangat baik, ternyata tidak tahu landasannya, dan ternyata tidak tahu siapa pembuat landasan tersebut. Alhasil mereka berjalan tanpa tahu landasan yang jelas, seolah kehilangan arah.

Untuk lebih mengenal sang pembangun, Sa’id Hawwa menuliskan secara tersendiri satu bab mengenai sang tokoh Hasan Al Banna. Pun seperti yang kita kenal, Hasan Al Banna adalah tokoh penggerak gerakan islam kontemporer. Lahir dari rasa prihatin terhadap kondisi Mesir, Hasan Al Banna lahir menjadi sosok perubahan. Masa mudanya beliau habiskan untuk berjuang menyemai benih – benih islami. Pemikiran – pemikiran beliau diterima dengan baik oleh semua kalangan. Pada tahun 1928 beliau mendirikan gerakan Ikhwanul Musiimin bersama sahabat – sahabat perjuangannya. Gerakan yang didirikan oleh Hasan Al banna pun menyebar dengan sangat luas dan diterima dengan sangat baik oleh masyarakat. Dakwah yang di usung beliau adalah islam komprehensif, bahwa islam adalah kaffah, syamil dalam artian adalah menyeluruh.

Kunci Memahami Dakwah Ikhwanul Muslimin
“Hendaklah kamu komitmen bersama jamaah kaum muslimin dan imamnya”
Kalimat ini begitu sangat menyentak kita untuk berpikir lebih mendalam tentang arti sebuah komitmen. Dalam bukunya Sa’ad Hawwa mengungkapkan “bahwa prinsip dasar yang TIDAK BOLEH diabaikan oleh seorang muslim adalah bahwa umat islam harus mempunyai jamaah dan iman. Kewajiban utama setiap muslim ialah memberikan kesetiaannya kepada jamaah dan imamnya.“

Hal yang HARUS digarisbawahi yaitu bahwa seorang muslim harus memiliki jamaah dan SETIA pada jamaahnya. Makna kata dari memiliki jamaah adalah bahwa setiap muslim atau setiap dari kita harus bergabung dalam sebuah jamaah, adanya sebuah jamaah akan menuntut kita untuk bekerja menegakkan kalimat Allah SWT di muka bumi ini dan memperjuangkan sampai akhir. Sedangkan kalimat SETIA pada jamaahnya adalah mengandung makna bahwa telah menjadi sebuah kewajiban seorang muslim untuk memberikan ketaatan kepada jamaahnya.

Kunci untuk memahami dakwah ikhwanul muslimin menurut Sa’ad hawwa adalah pembaharuan dan paham zaman. Selain itu kunci lain untuk memahami dakwah ini adalah bahwa hendaknya setiap mulim memahami permasalahan dakwahnya. Kita harus pandai mendakwahkannya dan juga pandai mendekatkan orang – orang yang merespon kepadanya.
Tanggung Jawab Besar

Dakwah bukan kerja main – main, bukan pula kerja yang hanya dilakukan oleh individual. Namun dakwah aadlah kerja besar, kerja nyata dan kerja Jamaah. Dalam bukunya, Saa’ad Hawwa menjelaskan bahwa tanggung jawab besar kita adalah melakukan tajdid (Pembaharuan) dan naql (ahli generasi). Pembaharuan yang dimaksud adalah pembaruan ajaran slam dan proses perubahan umat islam dari satu fase ke fase lain.
Ustadzh Hasan Al Banna mengemukakan bahwa ikhwnul muslimin harus menjadi jamaah yang memusatkan pada pelayanan umum dan gerakan ikhwan adalah sebuha gerakan pembaharuaa.
Menurut penulis, dua tanggung jawab besar ini tidak akan terrealisasikan apabila kita tidak memahami dengan baik risalah ta’lim. Begitu pula dengan kita sebagai seorang aktivis dakwah kampus, memiliki tanggung jawabyang besar untuk melakukan sebuah pembaharuan di wilayah kampus dan menjadikan kampus melewatii proses pembaharuan dari satu fase ke fase lain hingga ahirnya menjadi sebuah kampus yang madani.

Tanggung jawab yang besar apabila tidak dibarengi dengan pengkondisisan diri yang baik akan percuma saja. Untuk itulah ikhwah, para aktivis dakwah hendaknya kita mememahi dengan sangat detail risalh ta’lim .

Tentang Tujuan
Ikhwanul Muslimin tidak memiliki tujuan yang mereka – reka, atau tujuan yang asal saja. Namun tujuan yang yang dibuat adalah untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini. Tentang tujuan Hasan Al Banna mengungkapkannya menjadi 7 tujuan yaitu :
1. Individu
2. Rumah tangga
3. Masyarakat
4. Pemerintah
5. Daulah Islamiyah
6. Tegknya daulah dan Khilafah ISlamiyah
7. Dunia dan seluruhnya Hanya tunduk kepada Allah SWT
Keseluruh tujuan tersebut tidak akan tercapai apabila kita sebagai aktivis dakwah hanya main – main saja. Sungguh sebuiah tujuan yang mulia. Tujuan tersebut merupakan tugas dan tanggung jawab setiap ikhwan untuk merealisasikannya.
Semua buka dilakukan dengan tergesa0 gesa tetapi dengan bertahap. Bermula dari diri sendiri kemudian baru tujuan yang paling akhir yaitu menegakkan kalimat Allah SWT di seluruh muka bumi.

Tentang Sarana
Hasan Al – Banna tidak serta merta hanya memberitahu tujua yang akan kita tuju tanpa degan strategi yang bias kita lakukan. Dalam buku membina angkatan mujahid, dijbarkan secara detail mengenai sarana serta strategii yang bisa kita lakukan dalam menempuh tujuan besar kita.
Setiap dari tujuan dijelaskan secara detail tentang sarana yang dapat kita lakukan untuk merealisasikan tujuan – tujuan tersebut.

Tahapan – tahapan Dakwah
Dalam risalah ta’lim Hasan Al Banna mengatakan bahwa tahapan dakwah ada tiga macam yaitu :
1. ta’arif
dalam tahapan dakwha inidilakukan dengan menyebarkan fikrah islam di tengah masyarakat
2. takwin
tahapan ini ditegakkan dengan melakukanseleksi terhadap anasir posotif untuk memikul beban jihad dan untuk menghimpun berbagai bagian yang ada.
3. tanfidzh
dakwah dalam tahapan ini adalah jihad, tanpa kenal sikap plin-plan, kerja terus menerus untuk menggapai tujuan akhir.
Dalam ketiiga tahapan ini, saiad hawwa menjelaskan bahwa ketiganya bisa dilakukan secara integral. artinya bisa dilakukan dengan bersama – sama walaupun masih dalam tahapan pertama.
Risalah Ta’lim Dan Sendi – Sendinya Pembentukan Pribadi Islam
Risalah ta’lim adalah risalah gerakan. Risalah ini merupakan modal kita sebelum terjun ke medan jihad. Risalah ini merupakan titik tolak bagi seorang akh. Ada 10 rukun baiat yang dibuat oleh Hasan Al Banna. Dan semua rukun ini saling berintegrasi satu sama lain.

Kita sebagai aktivis dakwah harus memegang teguh risalah ta’lim ini dan mengapliksikannya dalam kehidupan kita. Bukan hal yang main – main kenapa seorang hasan Al Banna membuat ini, dan bukan sembarangan juga menaruh rukun – rukun tersebut. Semua sudah diperhitungkan dan dalam bukunya Sa;ad hawwa menjelaskan secara rinci mengenai kesepulun rukun baiat tersebut

Kewajiban – kewajiban seorang mujahid
Seorang HAsana Al ABnna yang sangat cerdas juga membuat kewajiban – kewajiban seorang mujahid bagi setiap kah. Kewajiban – kewajiban ini pun di buat dengan sedatl – detailnya, hal yang mungkin tidak pernah kita sadari atau kita pedulikan namun sang pembangun ini justru membuatnya untuk setiap akh.
Kewajiban – kewajiban ini seharusnya kita lakukan jika kita mengaku sebagai Aktivis Dakwah. Karena kewajiban – kewajiban yang dibuat sangat kafah dan meneyluruh seluruh sendi – sendi dan setiap aspek.

“Kesiapan menerima beban dan memanggul amanah”

“Kesiapan menerima beban dan memanggul amanah”
Bismillah...
Dengan menyebut nama Allah...
Amanah bukan sesuatu yang mudah namun bukan pula sesuatu yang harus kitsa persulit. Adanya amanah mampu membuat kita menjadi lebih dewasa dan lebih bertanggung jawab. Amanah...apalah arti amanah itu?
Mungkin tanpa di sadari kita selalu mengeluh dengan amanah yang diberikan. Mengeluh dan selalu mengeluh dengan yang selalu di berikan...apalah arti amanah seorang manusia seperti diri ini jika dibandingkan dengan amanah yang di emban Rasulullah SAW. Rasulullah menerima amanah yang lebih besar dan sangat agung. Namun bagaimana sikap Rasulullah ketika manerima amanah tersebut? Apakah menolak? Tentu tidak! Rasulullah menerima tugas dan amanah ini dengan lapang.
Mari sejenak kita buka Al – Qur’an surat Al – Muzzamil ayat 1 – 20, baca kemudian pamahi!
Dalam surat Al – Muzzamil ini kita bisa melihat bahwa Rasulullah menerima amanah yang cukup berat....betapa ia begitu takut ketika wahyu itu datang kepadanya. Surat Al Muzzmil erat kaitannya dengan amanah yang diberikan Allah kepada Rasulullah melalui perantara malaikat jibril.
Lalu Kandungan apa yang termuat dalam surat tersebut?
1. tugas dan beban yang agung
2. urusan yang serius
3. kedahsyatan yang bertubi – tubi yaitu meliputi kedahsayatan ucapan yang berat, ancaman yang menakutkan dan posisi
Kandungan dalam surat Al – Muzzamil dibagi menjadi dua yaitu pada Ayat 1 – 19 dan ayat 20
• Pada ayat 1 – 19
1. seruan yang memuat tugas dan beban
2. persiapan untuk memikul tugas dan beban
seruan yang harus di emban ini tidak hanya langsung di jalankan begitu saja namun diperlukan amunisi – amunisi yang cukup untuk mengemban amanah ini. Adapun persiapan yang harus dilakukan yaitu :
- QL
- Shalat Tepat Waktu
- Membaca Al – Qur’an secara tartil
- Dzikir yang penuh kekhusyuan
- Bertawakal kepada Allah SWT
- Menjauhi menghindari dengan baik
- Bersabar
- Membiarkan urusan para pendusta
• Pada ayat 20
1. Allah memberikan kerianganan, kelembutan, kasih sayang dan kemudahan kepada hamba – Nya
2. arahan untuk melakukan taat kepada Allah SWT
3. isyarat terhadap rahmat dan pengampunan Allah SWT
Pada mulanya shalat malam adalah hal yang WAJIB dilaksanakan namun kemudian Allah memberikan keringanan menjadi tidak wajib namuan barang siapa yang mengerjakannya akan diberik keutamaan yang sangat bagus. Karena bangun malam merupakan salah satu juhad yaitu jihad melawan nafsu kita.

Surat lain lagi yang masih bersinggungan dengan surat Al Muzzamil yaitu Al Mudtasir. Mari kita baca dan pahami maksudnya!
Surat al muddatstsir dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu :
1. Al maktho Al awa’a (ayat 1 - 7)
- Diawali dengan panggilan dari Allah kepada NAbi Muhammad untuk memikul suatu urusan yang besar
- Allah seakan menserabut Nabi dari keadaan berselimut kepada keadaan berjihad
- Arahan kepada nabi agar beliau bersiap untuk urusan yang agung
- Taujih kepada nabi yiatu taujih rabbaniyah
2. Al Maktho Al Tsani (ayat 8 - 10)
- ancaman kepada orang yang mendstakan akhirat
3. Al Maktho Al tsalis (Ayat 11 - 31)
- tipe orang yang dusta
- sebab dan penyebab mengapa ia mendapatkan pernyataan perang dari Allah
- perjalanan akhir sang pendusta
Adapun ciri – ciri orang yang berdusta yaitu :
- Allah telah memberi kekuasaan yang sangat benyal
- Allah memberi putra – putri
- Allah telah limpahkan kenikmatan dan kedudukan
- Namun orang tersebut masih menginginkan tembahan kenikmatan yang lebih banyak lagi
- Namuan orang yang bergelimang harta ini membangkang dari ayat – ayat Allah
4. Al Maktho Al Rabi (ayat 31 - 48)
- makna neraka saqar. Yaitu didalamnya terdapat orang yang suka membuang waktu dan mendustakan ayat – ayat Allah SWT
5. Al Maktho Al khamis ( ayat 49 – 56)
- Orang – orang yang memiliki Sikap Al – Muthadzibin (ada dakwah namun menghindar)
- Adapaun penyebab orang – orang tersebut menghindari dari dakwah yaitu : hasad (iri dan dengki), sedikit takut pada Allah

Semoga kita bisa mengemban amanah ini karena Allah. Just for Allah!!!!
SEMANGAT!! ^_^