_pembelajar sejati,siap beraksi,berjuang sepenuh hati_

"Cinta yang tulus_cinta Allah SWT"

Kamis, 21 April 2011

refleksi akhir tahun...

” Sebuah Refleksi Akhir Tahun ”
Assalamu’alaikum Wr Wb
Bismilahirrahmannirrahim

Suatu hari saya pernah mendengar sebuah cerita yang sangat unik,,unik karena saya bingung sebenarnya ini lucu atau tidak,, tapi cukup membuat kepala saya geleng – geleng...
Ceritanya begini...
Jadi, suatu hari teman saya ini pernah ditanya oleh salah seorang temannya tentang keaktifan sebuah organisasi.
” Koq ” ” sekarang gak aktif ci?? Gak keliatan...” Tanyanya
Temen – temen tau apa jawaban teman saya itu....Cukup simpel jawaban teman saya,,gak neko – neko..
”Kemarin milih sapa?” jawab teman saya sambil melemparkan sebuah pertanyaan.

Sungguh jawaban itu membuat temannya tercengang sampai tidak tahu harus berkata apa lagi.

Ketika saya mendengar cerita itu pun saya hanya tersenyum simpul. Hingga akhirnya membuat saya berpikir tentang arti sebuah organisasi dan pemimpin.

Betapa pentingnya arti seorang pemimpin bagi sebuah organisasi. Ibaratnya tubuh ini, apabila kita tidak memiliki kepala, maka kita tidak akan bisa hidup atau apabila ada yang salah dengan kepala kita, tentunya arah hidup kita tidak tahu akan kemana/jadi ngawur. Semua tergantung kepala, kalo isi kepalanya gak bener ya arahnya juga jadi gak bener. Semuanya ada di kepala..

Seorang pemimpin dipilih untuk memimpin anak buahnya dan organisasinya. Seorang pemimpin bukan untuk duduk santai melihat kinerja staffnya. Atau hanya bisa menyuruh tanpa berbuat. Atau membuat keputusan tanpa dipikir. Atau menginginkan hasil yang baik tapi tidak mau menjalani sebuah proses. Atau ingin dihormati tapi tidak mau menghormati staffnya. Atau ingin didengar tapi tidak mau mendengarkan staffnya berbicara. Atau ingin berhasil tapi menyalahi aturan.

Ffiiuhhh....

Tidak mudah menjadi seorang pemimpin...
Siapa yang bilang itu gampang....

Sulit???
Tentu saja sulit....
Bukan hal yang mudah tapi kita juga jangan mempersulitnya.

Jalankan saja??
Ya tdak bisa..
Memang semudah itu untuk dijalankan saja?? Tanpa ada bekal???

Ck..ck..ck..ck..ck...

Seorang pemimpin harus belajar. Belajar dari orang lain. Belajar dari pengalaman. Belajar berdiskusi. Dan Belajar memimpin.

Ada hadits yang berbunyi ”sebuah negeri tergantung dari pemimpinnya, apabila pemimpinnya tidak baik, maka kehancuranlah yang didapat”

Hei...lihatlah teman..Allah sekali – kali tidak pernah menipu kita...silahkan baca,,bila pemimpin itu tidak baik maka kehancuranlah yang akan datang..naudzubillahimindzalik..
Semoga Allah selalu melindungi kita....

Maka sebuah organisasi ini tergantung pemimpinnya. Bukan berarti staff tidak penting. Staff tentu saja penitng. Tidak bisa seorang ketua berdiri sendiri tanpa ada staffnya. Tidak bisa dia menjalankan seorang diri tanpa ada yang membantu. Tidak bisa!.
Lalu bagaimana bila....
Bila pemimpin dikatator???
Bila pemimpin sidah tidak benar???
Bila pemimpintidak mau mendengarkan staffnya???
Bila pemimpin hanya teriak – teriak saja???
Bila pemimpin hanya memerintah saja???
Bila pemimpin hanya ongkang-ongkang kaki saja???
Bila pemimpin sudah tidak mau menjalankan mekanisme rapat???
Bila pemimpin tidak percaya staffnya??
Bila pemimpin membuat rencana sendiri??
Bila pemimpin sudah tidak peduli???
Bila pemimpin tidak mau bertanggung jawab???

Tinggalkan saja!!
Ganti pemimpin yang lain!!!!!!

Itu cara yang mudah.

Lalu apa kita mau seperti itu???

Maka ketika ingin menanyakan tentang eksistensi sebuah oraganisasi, maka tanyakanlah pada diri sendiri lalu pada sang pemimpin, sang ketua. Bukankah itu pemimpin yang diinginkan?? Bukankah itu pemimpin yang inginnya memimpin?? Bukankah itu pemimpin yang selama ini dicari??

Benarkah???

Mungkin bila ada yang bertanya pada saya tentang eksistensi organisasi, maka jawaban saya sama seperti jawaban teman saya. ^_^

Wallahualam bi shawab

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Selasa, 19 April 2011

Bismillah…

Buku membina angkatan mujahid karya Sa’id Hawwa merupakan buku yang memuat menganai analisis konsep dakwah Hasan Al Banna. Ibaratnya buku ini adalah tafsir dari buku Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin. Membaca buku ini bagaikan mengingat kembali akan saat kita membaca buku Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin. Kembali mengingatkan komitmen kita sebagai Aktivis dakwah akan peran – peran yang sudah kita lakukan selama ini. Buku ini menjelaskan secara rinci hal – hal yang termuat dalam buku Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin.

Buku Membina Angkatan Mujahid terdiri dari 9 Bab. Bab Pertama kita akan disuguhi kenangan seputar Hasan Al Banna. Pada Bab kedua penulis menjelaskan tentang kunci memahami dakwah ikhwanul muslimin. Pada Bab ketiga kita akan diingatkan oleh penulis tentang sebuah tanggung jawab besar sebagai seorang akh. Pada bab keempat penulis menjabarkan tujuan konsep dakwah Hasan Al Banna. Pada bab kelima penulis menjelaskan mengenai sarana yang dapat dillakukan untuk mewujudkan tujuan besar kita. Selain itu pada bab keenam penulis juga menjelaskan tentang tahapan – tahapan dakwah secara terperinci. Di bab ketujuh, penulis memberikan penjelasan detail mengenai risalah ta’lim. Pada bab kedelapan penulis menuliskan mengenai kewajiban – kewajiban seorang mujahid yang dijabarkan sebanyak 40. Sedangkan pada bab terkahir yaitu bab kesembilan mengenai penjelasan pelengkap mengenai konsep dasar Dakwah Ikhawanul Muslimin.

Bismillah...pada artikel ini ana akan menjelaskan secara singkat mengenai buku Membina Angkatan Mujahid. Saat membaca buku ini banyak kalimat yang dapat membuat kita tersentak. Mencoba merenungkan kembali apa yang sudah dipahami selama ini. Salah satu yang akan saya angkat pertama kali adalah kalimat dalam bagian pendahuluan...
“ Banyak angkatan muda islam yang tidak mengenal Hasan Al – Banna dengan fiktah dan dakwahnya.”
Kalimat ini memang benar adanya, bahkan mungkin kita yang mengaku sebagai Aktivis dakwah sangat tidak memahami atau bahkan mengenal sosok peletak gerakan islam kontemporer sang pioneer Hasan Al Banna. Patut di sadari bahwa angkatan muda saat ini yang sering berkoar – koar, melakukan tetrorika dengan sangat baik, ternyata tidak tahu landasannya, dan ternyata tidak tahu siapa pembuat landasan tersebut. Alhasil mereka berjalan tanpa tahu landasan yang jelas, seolah kehilangan arah.

Untuk lebih mengenal sang pembangun, Sa’id Hawwa menuliskan secara tersendiri satu bab mengenai sang tokoh Hasan Al Banna. Pun seperti yang kita kenal, Hasan Al Banna adalah tokoh penggerak gerakan islam kontemporer. Lahir dari rasa prihatin terhadap kondisi Mesir, Hasan Al Banna lahir menjadi sosok perubahan. Masa mudanya beliau habiskan untuk berjuang menyemai benih – benih islami. Pemikiran – pemikiran beliau diterima dengan baik oleh semua kalangan. Pada tahun 1928 beliau mendirikan gerakan Ikhwanul Musiimin bersama sahabat – sahabat perjuangannya. Gerakan yang didirikan oleh Hasan Al banna pun menyebar dengan sangat luas dan diterima dengan sangat baik oleh masyarakat. Dakwah yang di usung beliau adalah islam komprehensif, bahwa islam adalah kaffah, syamil dalam artian adalah menyeluruh.

Kunci Memahami Dakwah Ikhwanul Muslimin
“Hendaklah kamu komitmen bersama jamaah kaum muslimin dan imamnya”
Kalimat ini begitu sangat menyentak kita untuk berpikir lebih mendalam tentang arti sebuah komitmen. Dalam bukunya Sa’ad Hawwa mengungkapkan “bahwa prinsip dasar yang TIDAK BOLEH diabaikan oleh seorang muslim adalah bahwa umat islam harus mempunyai jamaah dan iman. Kewajiban utama setiap muslim ialah memberikan kesetiaannya kepada jamaah dan imamnya.“

Hal yang HARUS digarisbawahi yaitu bahwa seorang muslim harus memiliki jamaah dan SETIA pada jamaahnya. Makna kata dari memiliki jamaah adalah bahwa setiap muslim atau setiap dari kita harus bergabung dalam sebuah jamaah, adanya sebuah jamaah akan menuntut kita untuk bekerja menegakkan kalimat Allah SWT di muka bumi ini dan memperjuangkan sampai akhir. Sedangkan kalimat SETIA pada jamaahnya adalah mengandung makna bahwa telah menjadi sebuah kewajiban seorang muslim untuk memberikan ketaatan kepada jamaahnya.

Kunci untuk memahami dakwah ikhwanul muslimin menurut Sa’ad hawwa adalah pembaharuan dan paham zaman. Selain itu kunci lain untuk memahami dakwah ini adalah bahwa hendaknya setiap mulim memahami permasalahan dakwahnya. Kita harus pandai mendakwahkannya dan juga pandai mendekatkan orang – orang yang merespon kepadanya.
Tanggung Jawab Besar

Dakwah bukan kerja main – main, bukan pula kerja yang hanya dilakukan oleh individual. Namun dakwah aadlah kerja besar, kerja nyata dan kerja Jamaah. Dalam bukunya, Saa’ad Hawwa menjelaskan bahwa tanggung jawab besar kita adalah melakukan tajdid (Pembaharuan) dan naql (ahli generasi). Pembaharuan yang dimaksud adalah pembaruan ajaran slam dan proses perubahan umat islam dari satu fase ke fase lain.
Ustadzh Hasan Al Banna mengemukakan bahwa ikhwnul muslimin harus menjadi jamaah yang memusatkan pada pelayanan umum dan gerakan ikhwan adalah sebuha gerakan pembaharuaa.
Menurut penulis, dua tanggung jawab besar ini tidak akan terrealisasikan apabila kita tidak memahami dengan baik risalah ta’lim. Begitu pula dengan kita sebagai seorang aktivis dakwah kampus, memiliki tanggung jawabyang besar untuk melakukan sebuah pembaharuan di wilayah kampus dan menjadikan kampus melewatii proses pembaharuan dari satu fase ke fase lain hingga ahirnya menjadi sebuah kampus yang madani.

Tanggung jawab yang besar apabila tidak dibarengi dengan pengkondisisan diri yang baik akan percuma saja. Untuk itulah ikhwah, para aktivis dakwah hendaknya kita mememahi dengan sangat detail risalh ta’lim .

Tentang Tujuan
Ikhwanul Muslimin tidak memiliki tujuan yang mereka – reka, atau tujuan yang asal saja. Namun tujuan yang yang dibuat adalah untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini. Tentang tujuan Hasan Al Banna mengungkapkannya menjadi 7 tujuan yaitu :
1. Individu
2. Rumah tangga
3. Masyarakat
4. Pemerintah
5. Daulah Islamiyah
6. Tegknya daulah dan Khilafah ISlamiyah
7. Dunia dan seluruhnya Hanya tunduk kepada Allah SWT
Keseluruh tujuan tersebut tidak akan tercapai apabila kita sebagai aktivis dakwah hanya main – main saja. Sungguh sebuiah tujuan yang mulia. Tujuan tersebut merupakan tugas dan tanggung jawab setiap ikhwan untuk merealisasikannya.
Semua buka dilakukan dengan tergesa0 gesa tetapi dengan bertahap. Bermula dari diri sendiri kemudian baru tujuan yang paling akhir yaitu menegakkan kalimat Allah SWT di seluruh muka bumi.

Tentang Sarana
Hasan Al – Banna tidak serta merta hanya memberitahu tujua yang akan kita tuju tanpa degan strategi yang bias kita lakukan. Dalam buku membina angkatan mujahid, dijbarkan secara detail mengenai sarana serta strategii yang bisa kita lakukan dalam menempuh tujuan besar kita.
Setiap dari tujuan dijelaskan secara detail tentang sarana yang dapat kita lakukan untuk merealisasikan tujuan – tujuan tersebut.

Tahapan – tahapan Dakwah
Dalam risalah ta’lim Hasan Al Banna mengatakan bahwa tahapan dakwah ada tiga macam yaitu :
1. ta’arif
dalam tahapan dakwha inidilakukan dengan menyebarkan fikrah islam di tengah masyarakat
2. takwin
tahapan ini ditegakkan dengan melakukanseleksi terhadap anasir posotif untuk memikul beban jihad dan untuk menghimpun berbagai bagian yang ada.
3. tanfidzh
dakwah dalam tahapan ini adalah jihad, tanpa kenal sikap plin-plan, kerja terus menerus untuk menggapai tujuan akhir.
Dalam ketiiga tahapan ini, saiad hawwa menjelaskan bahwa ketiganya bisa dilakukan secara integral. artinya bisa dilakukan dengan bersama – sama walaupun masih dalam tahapan pertama.
Risalah Ta’lim Dan Sendi – Sendinya Pembentukan Pribadi Islam
Risalah ta’lim adalah risalah gerakan. Risalah ini merupakan modal kita sebelum terjun ke medan jihad. Risalah ini merupakan titik tolak bagi seorang akh. Ada 10 rukun baiat yang dibuat oleh Hasan Al Banna. Dan semua rukun ini saling berintegrasi satu sama lain.

Kita sebagai aktivis dakwah harus memegang teguh risalah ta’lim ini dan mengapliksikannya dalam kehidupan kita. Bukan hal yang main – main kenapa seorang hasan Al Banna membuat ini, dan bukan sembarangan juga menaruh rukun – rukun tersebut. Semua sudah diperhitungkan dan dalam bukunya Sa;ad hawwa menjelaskan secara rinci mengenai kesepulun rukun baiat tersebut

Kewajiban – kewajiban seorang mujahid
Seorang HAsana Al ABnna yang sangat cerdas juga membuat kewajiban – kewajiban seorang mujahid bagi setiap kah. Kewajiban – kewajiban ini pun di buat dengan sedatl – detailnya, hal yang mungkin tidak pernah kita sadari atau kita pedulikan namun sang pembangun ini justru membuatnya untuk setiap akh.
Kewajiban – kewajiban ini seharusnya kita lakukan jika kita mengaku sebagai Aktivis Dakwah. Karena kewajiban – kewajiban yang dibuat sangat kafah dan meneyluruh seluruh sendi – sendi dan setiap aspek.

“Kesiapan menerima beban dan memanggul amanah”

“Kesiapan menerima beban dan memanggul amanah”
Bismillah...
Dengan menyebut nama Allah...
Amanah bukan sesuatu yang mudah namun bukan pula sesuatu yang harus kitsa persulit. Adanya amanah mampu membuat kita menjadi lebih dewasa dan lebih bertanggung jawab. Amanah...apalah arti amanah itu?
Mungkin tanpa di sadari kita selalu mengeluh dengan amanah yang diberikan. Mengeluh dan selalu mengeluh dengan yang selalu di berikan...apalah arti amanah seorang manusia seperti diri ini jika dibandingkan dengan amanah yang di emban Rasulullah SAW. Rasulullah menerima amanah yang lebih besar dan sangat agung. Namun bagaimana sikap Rasulullah ketika manerima amanah tersebut? Apakah menolak? Tentu tidak! Rasulullah menerima tugas dan amanah ini dengan lapang.
Mari sejenak kita buka Al – Qur’an surat Al – Muzzamil ayat 1 – 20, baca kemudian pamahi!
Dalam surat Al – Muzzamil ini kita bisa melihat bahwa Rasulullah menerima amanah yang cukup berat....betapa ia begitu takut ketika wahyu itu datang kepadanya. Surat Al Muzzmil erat kaitannya dengan amanah yang diberikan Allah kepada Rasulullah melalui perantara malaikat jibril.
Lalu Kandungan apa yang termuat dalam surat tersebut?
1. tugas dan beban yang agung
2. urusan yang serius
3. kedahsyatan yang bertubi – tubi yaitu meliputi kedahsayatan ucapan yang berat, ancaman yang menakutkan dan posisi
Kandungan dalam surat Al – Muzzamil dibagi menjadi dua yaitu pada Ayat 1 – 19 dan ayat 20
• Pada ayat 1 – 19
1. seruan yang memuat tugas dan beban
2. persiapan untuk memikul tugas dan beban
seruan yang harus di emban ini tidak hanya langsung di jalankan begitu saja namun diperlukan amunisi – amunisi yang cukup untuk mengemban amanah ini. Adapun persiapan yang harus dilakukan yaitu :
- QL
- Shalat Tepat Waktu
- Membaca Al – Qur’an secara tartil
- Dzikir yang penuh kekhusyuan
- Bertawakal kepada Allah SWT
- Menjauhi menghindari dengan baik
- Bersabar
- Membiarkan urusan para pendusta
• Pada ayat 20
1. Allah memberikan kerianganan, kelembutan, kasih sayang dan kemudahan kepada hamba – Nya
2. arahan untuk melakukan taat kepada Allah SWT
3. isyarat terhadap rahmat dan pengampunan Allah SWT
Pada mulanya shalat malam adalah hal yang WAJIB dilaksanakan namun kemudian Allah memberikan keringanan menjadi tidak wajib namuan barang siapa yang mengerjakannya akan diberik keutamaan yang sangat bagus. Karena bangun malam merupakan salah satu juhad yaitu jihad melawan nafsu kita.

Surat lain lagi yang masih bersinggungan dengan surat Al Muzzamil yaitu Al Mudtasir. Mari kita baca dan pahami maksudnya!
Surat al muddatstsir dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu :
1. Al maktho Al awa’a (ayat 1 - 7)
- Diawali dengan panggilan dari Allah kepada NAbi Muhammad untuk memikul suatu urusan yang besar
- Allah seakan menserabut Nabi dari keadaan berselimut kepada keadaan berjihad
- Arahan kepada nabi agar beliau bersiap untuk urusan yang agung
- Taujih kepada nabi yiatu taujih rabbaniyah
2. Al Maktho Al Tsani (ayat 8 - 10)
- ancaman kepada orang yang mendstakan akhirat
3. Al Maktho Al tsalis (Ayat 11 - 31)
- tipe orang yang dusta
- sebab dan penyebab mengapa ia mendapatkan pernyataan perang dari Allah
- perjalanan akhir sang pendusta
Adapun ciri – ciri orang yang berdusta yaitu :
- Allah telah memberi kekuasaan yang sangat benyal
- Allah memberi putra – putri
- Allah telah limpahkan kenikmatan dan kedudukan
- Namun orang tersebut masih menginginkan tembahan kenikmatan yang lebih banyak lagi
- Namuan orang yang bergelimang harta ini membangkang dari ayat – ayat Allah
4. Al Maktho Al Rabi (ayat 31 - 48)
- makna neraka saqar. Yaitu didalamnya terdapat orang yang suka membuang waktu dan mendustakan ayat – ayat Allah SWT
5. Al Maktho Al khamis ( ayat 49 – 56)
- Orang – orang yang memiliki Sikap Al – Muthadzibin (ada dakwah namun menghindar)
- Adapaun penyebab orang – orang tersebut menghindari dari dakwah yaitu : hasad (iri dan dengki), sedikit takut pada Allah

Semoga kita bisa mengemban amanah ini karena Allah. Just for Allah!!!!
SEMANGAT!! ^_^