_pembelajar sejati,siap beraksi,berjuang sepenuh hati_

"Cinta yang tulus_cinta Allah SWT"

Sabtu, 09 Juli 2011

Tausiyah Mujahidah......

Tuk Mujahidah Sholehah…..
Dengan kecantikanmu, kau lebih elok dari mentari,
Dengan akhlakmu, kau lebih wangi dari harum bunga..
Dengan rendah hatimu, kau lebih tinggi dari bulan..
Dengan kelembutanmu, kau lebih  halus dari rintik hujan...
Pertahankanlah keindahan ini, agar kau bisa terus menjadi sayap perjuangan Islam..
Penegak kaliamat Allah di muka bumi...

Andaikan Dakwah bisa tegak seorang diri, . .
Tak perlu Musa mengajak Harun,
Rasululloh mengajak Abu Bakar untuk menemaninya Hijrah.
Meskipun pengemban Dakwah itu seorang yang’Alim, Faqih dan memiliki Azzam yang kuat..
Tetap saja ia manusia lemah dan akan selalu membutuhkan saudaranya,
Meskipun saudaranya itumemiliki banayk keterbatasan.
Peliharalah ia dan jangan jau sia – siakan saudaramu.
Karena ia sangan mahal dan mungkin ialah yang selalu mendoakanmu dalam setiap langkah – langkahmu.


Rasulullah senantiasa berwajag ceria, beliau pernah bersabda :
 ” Janganlah terlalu membebani jiwamu dengan segala kesungguhan hati, hiburlah dirimu dengan hal – hal  yang ringan dan lucu. Sebab bila hati terus dipaksakan memikul beban – beban yang berat, maka ia akan menjadi buta .

” Teman, janganlah kita bergerak karena suatu beban. Namun bergeraklah karena hati dan langkah yang pasti!!. Adanay amanah adalah kebutuhan, bukan sekedar keinginan kita. Pilihlah keputusan itu berdasarkan karena kebaikan, bukan karena kepentingan!! Ti dak semua orang diberikan kelebihan untuk membuat suatu perubahan. Jadi  jangan sampai kita sia – siakan waktu untuk lama tersadar!.

Ketika ku minta pada Allah setangkai bunga segar, DIA beri aku kaktus berduri
Aku pun minta pada-NYA  binatang mungil nan cantik, DIA beri aku ulat.
Aku sempat sedih, protes dan kecewa
Betapa tidak  adilnya ini.
Namun kemudian.
Kaktus itu berbunga sangat indah sekali..
Dan ulat itu pun tumbuh dan berubah menjadi kupu – kupu yang teramat cantik.
Itulah jalan Allah, Idah pada waktunya.
Allah akan berikan apa yang kita perlukan,
Kadang kita kecewa, terluka, tapi jauh di atas segalanya.
Allah sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan kita.

Kamis, 07 Juli 2011

Benarkah Kita Kader Dakwah???

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki kepahaman yang utuh. Paham akan falsafah dasar perjuangan, paham akan nilai-nilai yang diperjuangkan, paham akan cita-cita yang hendak dicapai, paham akan jalan yang harus dilalui. Kader dakwah memiliki pemahaman yang komprehensif. Paham akan tahapan-tahapan untuk merealisasikan tujuan, paham akan konsekuensi setiap tahapan, paham akan logika tantangan yang menyertai setiap tahapan, paham bahwa di setiap tahapan dakwah memiliki tingkat resiko yang berlainan. Kepahaman kader dakwah terus berkembang.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki keikhlasan yang tinggi. Ikhlas artinya bekerja hanya untuk Allah semata, bukan untuk kesenangan diri sendiri. Sangat banyak godaan di sepanjang perjalanan dakwah, baik berupa harta, kekuasaan dan godaan syahwat terhadap pasangan jenis. Hanya keikhlasan yang akan membuat para kader bisa bersikap dengan tepat menghadapi segala bentuk godaan dan dinamika dakwah. Sangat banyak peristiwa di sepanjang perjalanan dakwah yang menggoda para kader untuk meninggalkan jalan perjuangan. Ikhlas adalah penjaga keberlanjutan dakwah.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki amal yang berkesinambungan. Amal dalam dakwah bukanlah jenis amal yang setengah-setengah, bukan jenis amal sporadis, spontan dan tanpa perencanaan. Sejak dari perbaikan diri dan keluarga, hingga upaya perbaikan masyarakat, bangsa, negara bahkan dunia. Amal dalam dakwah memiliki tahapan yang jelas, memiliki tujuan yang pasti, memiliki orientasi yang hakiki. Kader dakwah tidak hanya beramal di satu marhalah dan meninggalkan marhalah lainnya. Kader dakwah selalu mengikuti perkembangan mihwar dalam dakwah, karena itulah amal yang harus dilalui untuk meretas peradaban.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki etos jihad yang abadi. Jihad dalam bentuk kesungguhan, keseriusan, dan kedisiplinan dalam menggapai visi dakwah yang hakiki. Kesungguhan membela hak-hak umat, kesungguhan mendidik masyarakat, keseriusan mengusahakan kesejahteraan masyarakat, kedisiplinan membersamai dan menyelesaikan persoalan kehidupan yang semakin kompleks. Kader dakwah harus memberikan kesungguhan dalam menjalankan semua agenda dakwah, hingga menghasilkan produktivitas yang paripurna, di lahan apapun mereka bekerja. Itulah makna jihad dalam konteks perjalanan aktivitas dakwah.


Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki pengorbanan yang tak terhingga nilainya. Dakwah tidak mungkin akan bisa dijalankan tanpa pengorbanan. Sejak dari pengorbanan harta, waktu, tenaga, pikiran, fasilitas, hingga pengorbanan jiwa. Rasa lelah, rasa jenuh, rasa letih selalu mendera jiwa raga, kesenangan diri telah dikorbankan demi tetap berjalannya roda dakwah. Aktivitas dijalani sejak berpagi-pagi hingga malam hari. Kadang harus bermalam hingga beberapa lamanya, kadang harus berjalan pada jarak yang tak terukur jauhnya, kadang harus memberikan kontribusi harta pada kondisi diri yang belum mapan dari segi ekonomi. Pengorbanan tanpa jeda, itulah ciri kader dakwah yang setia.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki ketaatan kepada prinsip, keputusan organisasi, dan kepada pemimpin. Prinsip-prinsip dalam dakwah harus dilaksanakan dengan sepenuh ketaatan. Taat kepada pondasi manhaj adalah bagian penting yang akan menghantarkan dakwah pada tujuannya yang mulia. Taat kepada keputusan organisasi merupakan syarat agar kegiatan dakwah selalu terbingkai dalam sistem amal jama’i. Taat kepada pemimpin merupakan tuntutan agar pergerakan dakwah berjalan secara efektif pada upaya pencapaian tujuan. Ketaatan bukan hanya terjadi dalam hal-hal yang sesuai dengan pendapat pribadi, namun tetap taat terhadap keputusan walaupun bertentangan dengan pendapatnya sendiri.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki keteguhan tiada henti. Kader dakwah harus selalu tegar di jalan dakwah, karena perjalanan amatlah panjang dengan berbagai gangguan dan tantangan yang menyertainya. Teramat banyak aktivis dakwah semasa, dimana mereka memiliki semangat yang menyala pada suatu ketika, namun padam seiring berjalannya usia. Ada yang tahan tatkala mendapat ujian kekurangan harta, namun menjadi gugur saat berada dalam keberlimpahan harta dunia. Ada yang tegar saat dakwah dilakukan di jalanan, namun tidak tahan saat berada di pucuk kekuasaan. Kader dakwah harus berada di puncak kemampuan untuk selalu bertahan.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki kemurnian dan kebersihan dalam orientasi aktivitasnya. Sangat banyak faktor yang mengotori kebersihan orientasi dakwah. Ada kekotoran cara mencapai tujuan. Ada kekotoran dalam usaha mendapatkan harta. Ada kekotoran dalam langkah menggapai kemenangan. Kader dakwah harus selalu menjaga kemurnian orientasinya, tidak berpaling dari kebenaran, tidak terjebak dalam kekotoran. Karena dakwah memiliki visi yang bersih, sehingga harus dicapai dengan langkah dan usaha yang bersih pula.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki solidaritas, persaudaraan dan kebersamaan yang tinggi. Ukhuwah adalah sebuah tuntutan dalam menjalankan agenda-agenda dakwah. Semakin besar tantangan yang dihadapi dalam perjalanan dakwah, harus semakin kuat pula ikatan ukhuwah di antara pelakunya. Kader dakwah saling mencintai satu dengan lainnya, saling mendukung, saling menguatkan, saling meringankan beban, saling membantu keperluan, saling berbagi dan saling mencukupi. Kader dakwah tidak mengobarkan dendam, iri dan benci. Kader dakwah selalu membawa cinta, dan menyuburkan dakwah dengan sentuhan cinta.

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki tingkat kepercayaan yang tak tertandingi. Berjalan pada rentang waktu yang sangat panjang, dengan tantangan yang semakin kuat menghadang, menghajatkan tingkat kepercayaan prima antara satu dengan yang lainnya. Berbagai isu, berbagai fitnah, berbagai tuduhan tak akan menggoyahkan kepercayaan kader dakwah kepada para pemimpin dan kepada sesama kader dakwah. Berbagai caci maki, berbagai lontaran benci, berbagai pelampiasan kesumat, tak akan mengkerdilkan kepercayaan kader terhadap langkah dakwah yang telah dijalaninya.
Jadi, benarkah kita kader dakwah ?


nDalem Mertosanan, Yogyakarta, 30 Mei 2011


Oleh Cahyadi Takariawan...

Selasa, 05 Juli 2011

FIQH DAKWAH (Syaikh Musthafa Masyhur)

MUQADDIMAH

( Surah Yusuf ayat 108 )
Medan dakwah merupakan satu lapangan yang luas selari dengan objek dakwah yang dibawa oleh para rasul iaitu agama Islam. Justeru itu para duat selaku juru dakwah mempunyai tugas dan tanggungjawab yang besar dalam rangka menyalur dan menyampaikan risalah dakwah dengan lebih terarah dan terencana. Oleh itu pemahaman yang mendalam dan mendasar mengenai “Fiqh Dakwah” adalah perlu agar penyebarluasan risalah ini mencapai tahap yang maksimum.

1. PEMAHAMAN FIQH DAKWAH
Fiqh dakwah merupakan cantuman dua rangkaikata iaitu Fiqh dan Dakwah. Setiap kalimah mempunyai maknanya tersendiri.
FIQH : Mengetahui (tahu) dan memahami (faham).
DAKWAH : Seruan kepada sesuatu iaitu galakkan melakukan sesuatu.

Dakwah ilallah : Seruan kepada beriman kepada Allah Taala dan beriman dengan apa yang dibawa oleh para rasul dengan membenarkan segala perkhabaran yang dibawa, patuh dan tunduk dengan segala titah perintah Allah Taala dan meninggalkan segala larangannya, justeru agama Islam merupakan agama penamat, syumul dan lengkap.
Ini bermakna dakwah ilallah ialah seruan untuk tunduk dan patuh kepada agama Islam secara keseluruhannya (total). Meyakini Islam adalah agama yang benar, yang dibawa oleh junjungan besar nabi Muhammad s.a.w yang diwahyukan oleh Allah Taala sebagaimana firmanNya :(Surah Fussilat : 43)
Maksudnya : Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan dan belakangnya, yang diturunkan dari Allah yang maha bijaksana lagi maha terpuji.


2. KEWAJIBAN MENYAMPAIKAN DAKWAH
Sesungguhnya kewajipan menyampaikan dakwah Islamiah merupakan satu tuntutan secara syar’ie. Kewajipan ini tertanggung di atas bahu umat Islam tidak mengira tua atau muda, lelaku mahupun perempuan, kecil atau besar, samada pemerintah atau rakyat jelata secara khususiah atau umum. Tuntutan ini mesti direalisasikan mengikut kadar keupayaan diri, berdasarkan kemampuan tenaga dan darjah kemantapan iman serta rasa sensitiviti terhadap realiti umat Islam di samping iklim persekitaran masyarakat yang dilingkunginya.

Ini jelas berdasarkan firman Allah di dalam Surah At Taubah ayat 71.

Islam juga menjelaskan kaedah penyebarluasan dakwah ini adalah merangkumi semua golongan muslimin.

( Surah Ali Imran : 110 )
Di dalam ayat di atas para ulama’ menjelaskan ibarat adalah merangkumi seluruh umat muslimin tidak mengira jenis keturunan, bahasa, budaya, warna kulit dan bangsa. Kesemuanya adalah sama menerima tuntutan tersebut.
Tidak syak lagi di sana terdapay banyak nas dari Al Quran dan As Sunah yang menjelaskan kewajipan menyampaikan risalah dakwah Islamiah secara qat’ie (dalil qat’ie).
Nas Al Quran :
(Surah Ali Imran : 104)
Di dalam ayat di atas pada kalimah adalah iaitu menunjukkan kata perintah dan perintah untuk melakukan sesuatu menurut kaedah usul adalah suatu yang wajib dilakukan. Ibarat di dalam ayat yang dimaksudkan daripadanya adalah sekelompok atau segolongan daripada ulamak dan du’at yang bertugas untuk menyeru amar ma’ruf dan mencegah amal mungkar dan menjaga pandangan umum di setiap rantau dan ceruk mujtamak Islam sekalipun kewajipan tersebut pada asalnya tertumpu kepada setiap individu daripada umat Islam mengikut kadar kemampuan, persediaan dan momentum iman.
Ibnu Katsir di dalam mentafsirkan ayat di atas menyatakan perlunya satu kelompok di kalangan umat Islam memikul tugas mencegah kemungkaran dan menyeru kepada ma’ruf sekalipun tugas tersebut terbeban kepada setiap individu muslim, setiap daripada mereka melaksanakan tugas tersebut mengikut keupayaan mereka
Di dalam hadis rasul, apakah yang dimaksudkan dengan dan juga ibarat Bukankah ia bermakna setiap individu yang berintima’ dengan jemaah muslimin mesti memberi janji setia dan patuh taat kepada ketua/amir? Anggota mesti mendengar dan patuh kepada setiap arahan di dalam keadaan senang ataupun susah dan tidak sekali-kali bertindak keluar dari jemaah kecuali arahan yang dikeluarkan berbentuk maksiat atau menyeru kepada kekufuran. Justeru ia menyatakan kebenaran di mana sahaja ia berada tanpa menghiraukan celaan dan kejian melainkan hanya takut kepada Allah.
Jelasnya, kewajipan menyampaikan risalah dakwah Islamiah ke serata pelusuk rantauadalah satu tuntutan sebagaimana wajibnya beriltizam terhadap jemaah Islam di atas dasar wajibnya memberi peringatan kepada manusia.

3. SEBAB DAKWAH
Sebab ialah setiap sesuatu yang terhasil daripadanya kesan atau perubahan ataupun pergerakan. Dengan erti kata lain ia merupakan satu hal keadaan yang didahului dengan hajat atau keperluan iaitu samada peristiwa, perubahan atau pergerakan.Sebagaimana yang kita ketahui sesuatu keputusan yang berlaku dihukumkan dengan sebab dan diikat dengan logikal akal.
Asbab dakwah terbahagi kepada dua :
1. Terbit daripada akidah yang mantap dan nas agama.
2. Pemahaman yang sahih mengenai dakwah berdasarkan akidah.

Sebab yang pertama ( Terbit Daripada Akidah yang Mantap)
1.1 Tuntutan pengabdian manusia hanya kepada Allah.
Allah s.w.t menuntut manusia dan jin supaya meletakkan ubudiah hanya kepadanya tanpa ada unsure pensyirikannya. Allah s.w.t tidak meninggalkan tuntutan tersebut begitu sahaja tetapi Allah s.w.t mengutuskan kepada manusia para rasul untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab yang berupa suruhan dan larangan untuk disampaikan kepada manusia.
1.2 Di antara tugas tersebut ialah menunjukkan akal manusia kepada mengenal Allah s.w.t samada zat, sifat dan nama, mengajar manusia perkara-perkara ghaib, menjelaskan perkara-perkara halal dan haram guna untuk kesempurnaan hidup, menjelaskan konsep ukhuwwah di dalam kehidupan dan mendidik diri serta akhlak yang baik. Tugas tersebut dijelaskan dengan firman Allah Taala di dalam Surah Az Zariat ayat 56-57 :
1.3 Tuntutan bertaaruf / kenal mengenal.
Sesungguhnya Allah s.w.t menghendaki manusia agar bertaaruf di antara satu sama lain untuk melengkapkan konsep kemasyarakatan dalam bentuk yang lebih berfaedah dan bermakna, iaitu konsep faham memahami, tolong menolong, ziarah menziarahi yang akan membangkitkan suasana harmonis di dalam kelompok masyarakat.
Firman Allah Taala : (Surah Al Hujrat : 13)
Nas tersebut menjelaskan
• Allah Taala telah menjadikan manusia daripada asal yang satu iaitu Adam ‘Alaihissalam dan Hawa
• Fitrah kejadian manusia adalah berhajatkan kepada persaudaraan iaitu memerlukan orang lain semenjak tarikh kemanusiaan yang awal iaitu Adam ‘Alaihissalam.
• Taaruf merupakan maslahat kepada manusia dalam pola kehidupan masyarakat.
1.4 Tuntutan menjadi khalifah di muka bumi dan megimarahkannya.
Allah s.w.t telah melantik manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Justeru terbeban kepada mereka tanggungjawab dan kewajipan mengimarahkan bumi dan seisinya dengan melaksanakan garis panduan yang ditetapkan oleh Allah s.w.t yang berupa syariat dan perundangan Islam.
Firman Allah Taala :(Surah An Nur : 55) (Surah Hud : 61)
Nas di atas menerangkan :
أ. Allah s.w.t telah menjanjikan kepada orang mukmin untuk menjadikan mereka ‘khalifah’ di muka bumi sebagaimana sebelumnya Allah telah melantik orang-orang mukmin dan mereka yang beramal soleh.
ب. Allah s.w.t menegaskan akan menegakkan bagi mereka agama yang diredhoi olehnya.
ج. Tuntutan mengimarahkan muka bumi.


2. Sebab Yang Menuntut Kefahaman Mengenai Dakwah Dengan Pemahaman Yang Sahih
Berdasarkan Akidah dan Agama.
Kefahaman yang sahih terhadap akidah dan agama adalah bertitik tolak atau terbit daripada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah s.a.w, merangkumi skop yang menyeluruh daripada keduanya samada dari sudut ilmu, penafsiran dan penjelasan daripada keduanya.
Kefahaman yang jelas terhadap akidah dan agama ini berdiri di atas asas dan rukun yang melingkari individu muslim tersebut sejak zaman berzaman. Asas dan rukun tersebut adalah :

Sesungguhnya umat Islam keseluruhannya adalah umat yang satu dalam konteks akidah, ibadah, muamalah dan akhlak. Kesatuan yang terbina ini merentasi sempadan daerah dan tempat, warna kulit dan bangsa, budaya dan bahasa. Di atas faktor yang berlaku konsep dakwah perlu dimainkan kembali untuk mengikat kesatuan yang sedia ada.
Fenomena yang melingkari umat Islam dengan perspektif kehidupan yang berbeza dari aspek pemerintah, kemasyarakatan, keintelektualan, dan sosio ekonomi dalam konteks bernegara menyebabkan mereka terhalang untuk meletakkan syariat Islam sebagai perundangan yang tertinggi. Ini mengakibatkan berlakunya pelbagai masalah dan kezaliman lantaran mereka jauh daripada perundangan yang sebenar. Kesannya gejala kerosakan dan kebejadan semakin bertambah, begitu juga perpecahan dan kemunduran.
Sesungguhnya umat Islam dituntut untuk beramal mengikut kemampuan yang ada dengan berpandu arah oleh Al Quran dan Sunnah. Justeru itu ia menuntut untuk merubah suasana yang tidak baik yang berlaku di dalam kehidupan masyarakat sekitarnya dengan uslub yang dibenarkan oleh Islam.


4. RUKUN DAKWAH

Sejajar dengan konsep dakwah iaitu seruan kepada agama Islam selaku penamat yang dibawa oleh junjungan besar Muhammad s.a.w, yang merupakan wahyu daripada Allah s.w.t. Ia selari dengan apa yang dijelaskan oleh Al Quran dan Sunnah Nabawiyyah dengan skop perbincangan yang luas yang merangkumi peristiwa-peristiwa yang terjadi kepada Rasulullah dan sirah perjalanannya yang panjang, maka rukun dakwah yang terbina adalah diasaskan di atas dasar agama Islam itu sendiri.
Rukun dan asas tersebut (secara teori dan praktikal) adalah :

أ. Aqidah
ب. Ibadah
ج. Akhlak

Ketiga-tiga asas di atas terikat dengan ikatan yang kukuh di antara satu sama lain
dimulai dengan asas aqidah yang sahih mencernakan ibadah yang sejahtera. Binaan ibadah yang sejahtera melahirkan peribadi yang luhur dalam konteks individu dan masyarakat. Amal soleh tercetus apabila ibadah yang dilakukan berdasarkan akidah yang murni.

4.1 Aqidah
Aqidah ialah perkara yang wajib dipercayai oleh setiap individu muslim dengan keyakinan yang thabat untuk didirikan di atasnya konsep ibadah, akhlak bagi setiap individu dan masyarakat. Ruang lingkup perbicaraan aqidah adalah :

1. Beriman kepada Allah.
2. Beriman kepada para Malaikat.
3. Beriman kepada para Rasul.
4. Beriman kepada Kitab
5. Beriman kepada Hari Qiamat.
6. Beriman kepada Qada’ dan Qadar.


4.2 Ibadah
Iaitu penerjemahan daripada aqidah yang murni, merealisasikan konsep aqidah dalam bentuk yang praktikal. Ibadah tersebut ialah yang di fardukan oleh Allah Taala kepada setiap individu muslim. Dasar-dasar ibadah adalah:
1. Dua kalimah syahadah (Syahadatain)
2. Mendirikan solat
3. Mengeluarkan zakat
4. Puasa di bulan Ramadan
5. Mununaikan haji bagi sesiapa yang berupaya
6. Ibadah dalam pengertian yang luas

4.3 Akhlak
Iaitu perilaku yang murni dihiasi dengan norma-norma akhlak muslim yang mesti diimplimentasikan dalam kehidupan masyarakat individu muslim adalah seperti berikut:
1. Cabang iman
2. Amar ma’ruf dan Nahi mungkar
3. Al-Adlu Wal-Ihsan
4. Jihad fisabillah

Di dalam hal di atas (konsep akhlak) perkara-perkara di atas kadang-kadang menjadi fardhu di dalam keadaan tertentu, kadang-kadang pula menjadi sunat di dalam keadaan yang tertentu. Dalam keadaan yang lain pula ia terkadang menjadi amalan yang biasa dan pilihan. Namun begitu kesemuanya merupakan akhlak-akhlak Islam yang luhur.

5. MATLAMAT (TUJUAN ) DAKWAH
Hala tuju dakwah yang hendak dicapai secara umumnya adalah senada dan seirama dengan tujuan agama Islam diturunkan kepada Bani Basyar iaitu untuk mencapai kemaslahatan manusia dan menyingkirkan sebarang agen-agen perosak dan pembinasa yang boleh mencacatkan keharmonian kehidupan manusia samada di dunia dan akhirat. Imam Al Iz bin Abd Dissalam mengatakan :
“Sesunguhnya syariat itu adalah kemaslahatan baik mencegah dari kerosakan maupun mencapai kemaslahatan“
Tuju sasar dakwah secara umum terbahagi kepada dua:
1. Fardi
2. Jamai’e

Di antara matlamat dan rangka tuju dakwah yang hendak dicapai adalah seperti berikut :

5.1 Menunjuk manusia kepada pengabdian yang total kepada Allah s.w.t bertepatan dengan apa yang disyariatkan kepada mereka. Ini merupakan tugas asas dan asal kebangkitan para rasul di muka bumi ini. Namun begitu tugas tersebut berpindah kepada para duat selaku galang ganti kepada tugas yang ditinggalkan oleh para rasul seraya para du’at merupakan pewaris para nabi dan rasul
Justeru itu, para du’at berperanan sebagai penerang, penafsir dan petunjuk jalan kepada manusia kepada persoalan dasar dan asas iaitu konsep tauhid dan menjelaskan konsep Islam sebagai satu cara hidup.

5.2 Menunjuk manusia agar berta’aruf (kenal mengenal) di antara satu sama lain. Ia merupakan satu perintah dari Allah Ta’ala untuk dilaksanakan oleh manusia seluruhnya.
Para du’at diwajibkan menjelaskan perkara tersebut kepada manusia tidak boleh hidup berseorangan. Interaksi dan komukasi di antara manusia merupakan naluri yang ada di dalam jiwa manusia.

5.3 Mengubah suasana yang buruk dan iklam yang bejad di dalam realiti kehidupan manusia kepada iklam Islamiah bagi menjamin kemaslahatan kehidupan yang sejahtera di dunia dan akhirat. Para du’at diperlukan untuk mencernakan misi tersebut. Menjelaskan konsep Jahiliyyah kepada manusia agar mereka berupaya menanggapi perkara tersebut sehingga mereka dapat menyusun kehidupan dengan teratur.

5.4 Mendidik individu muslim dengan tarbiyyah Islamiah Syumuliah yang merangkumi tarbiah rohiah, jasadiah, fikriah dan ‘aqliah.

5.5 Membentuk Bait Muslimah dengan mendidik individu-individu tersebut bertepatan dengan Manhaj Islam dan system kekeluargaan yang berteraskan kepada roh Islami. Justeru itu institusi ini dapat melahirkan jil muslim yang bersifat taqwa, menjadi tunas baru demi terbentuknya masyarakat Islam yang diimpikan.

5.6 Membentuk Mujtamak Muslim yang merealisasikan norma-norma Islam dari segi dasar dan akhlak. Dengan erti kata lain, masyarakat yang mengimplimentasikan system dan peraturan mengikut neraca timbangan Islam yang mampu mengaplikasikan konsep amar ma’ruf dan nahi mungkar, al ‘adl wal ihsan di dalam kehidupan masyarakat.

5.7 Usaha untuk mewujudkan Negara Islam yang melaksanakan syariat Allah terhadap manusia. Negara Islam yang mengamalkan keadilan individu, menjaga maslahat umum, mengekang fasad dan melaksanakan amanah, menyebar agama Islam kepada seluruh manusia dan menyebarluaskan pendidikan Islam.

5.8 Usaha untuk membebaskan negara Islam keseluruhannya daripada cengkaman mana-mana musuh dalam realiti yang ada atau keadaan yang melingkunginya. Membebaskannya daripada mengikut arus atau perancangan oleh pemuka-pemuka arkitek barat.
Negara yang awal yang mesti dibebaskan ialah Palestin di mana ramai di kalangan manusia tertipu dalam tempoh yang panjang.

5.9 Usaha untuk mewujudkan kesatuan yang jitu di antara negara-negara Islam dalam konteks kesatuan fikrah dan ilmu, kesatuan matlamat dan hadaf, kesatuan ekonomi dan siasah di antara negara Islam.
Satu impian untuk meletakkan negara-negara Islam di bawah “Payungan Khilafah Islamiah” iaitu daulah Islamiah yang menjalankan syariat dan perundangan Islam.

5.10 Usaha untuk melebarluaskan Dakwah Islamiah seluruh alam maya, timur dan barat, di negara Islam dan bukan Islam sejajar dengan “Agama Basyariah”.

" Berpuluh tahun kita meninggalkan asal usul kita, demi mencari pengertian sebuah kehidupan. Namun tidak salah untuk kita kembali jatuh cinta pada dunia yang pernah membesarkan kita, dan di sinilah bermulanya kehidupan sebenar "
Pada dasarnya, dakwah tidak dapat berjalan hanya dengan bekal pengetahuan mendalam mengenai mana yang benar dan mana yang salah. Banyak ulama yang telah menghasilkan karya-karya berupa buku yang membahas fiqh dakwah, misalnya Syaikh Jum’ah Amin Abdul Aziz, Syaikh Musthafa Masyhur yang bukunya merupakan kumpulan artikelnya di sebuah media massa. Fiqh ini pun pada akhirnya dilengkapi pula dengan berbagai pengetahuan lainnya, misalnya dengan apa yang oleh Syaikh Yusuf al-Qaradhawi sebut sebagai “Fiqh Prioritas”, dan berbagai teknik untuk mendekati hati objek dakwah, misalnya seperti yang dijelaskan oleh Abbas as-Siisi dalam bukunya, “Bagaimana Menyentuh Hati”. Di luar itu, masih berlimpah referensi lainnya yang dapat dipergunakan untuk memperkaya wawasan para dai.
Katakanlah kita memiliki cita-cita untuk memberangus perjudian di sekitar lingkungan rumah kita. Sebuah cita-cita yang mulia dan sudah pasti sejalan dengan ajaran Islam. Akan tetapi impian tersebut akan sulit terwujud jika kita sekonyong-konyong mendatangi tempat-tempat perjudian tersebut dan mengajak berkelahi semua orang yang ada di sana.
Sirah nabawiyah pada hakikatnya adalah sebuah paparan fiqh dakwah yang cukup lengkap. Ada berbagai macam cara dakwah Rasulullah saw., mulai dari yang halus sampai yang frontal. Beberapa contoh kasus bentuk dakwah beliau yang sangat beragam adalah :
1. Ketika mencari perlindungan ke Thaif, dan gagal, beliau dianiaya oleh penduduk setempat. Terhadap perlakuan ini, Rasulullah saw. memilih sikap diam dan justru mendoakan mereka agar segera mendapat hidayah.
2. Ketika ada seorang Badui yang datang nyelonong dan buang air kecil di dalam Masjid, Rasulullah saw. mendiamkannya, dan setelah ia selesai buang air kecil, barulah beliau memberi penjelasan baik-baik. Pada saat yang sama, Umar bin Khattab ra. sudah gemas hendak menebas leher orang tersebut.
3. Ketika membebaskan kota Mekkah, tidak ada orang yang dianiaya, meskipun di masa lalu mereka telah menyakiti Rasulullah saw. dan para pengikutnya sedemikian rupa.
4. Dalam setiap peperangan, Rasulullah saw. selalu berada di garis depan dan tidak pernah memperlihatkan keraguan. Bahkan para pengawalnya sendiri kerepotan menjaga beliau karena beliau begitu bersemangat menerjunkan dirinya ke medan tempur.
Setiap kejadian di atas adalah bentuk dakwah. Diamnya Rasulullah saw. terhadap penganiayaan di Thaif kemudian hari menjadi bukti kebesaran hati beliau. Tenangnya Rasulullah saw. melihat orang Badui yang kencing di dalam Masjid membuat semua orang paham bahwa beliau adalah orang yang amat sabar. Pembebasan kota Mekkah tanpa korban jiwa membuktikan sifat pemaafnya. Di sisi lain, kegagahannya di medan tempur pun adalah suatu bentuk dakwah, yaitu menunjukkan keteguhan seorang Muslim dalam menempuh bahaya. Empat hal di atas baru sebagian kecil contoh kasus yang dapat diambil pelajaran untuk bekal dakwah.
Kita tahu bahwa kencing di dalam Masjid itu adalah perbuatan yang kurang ajar, dan barangkali memang pelakunya memang pantas untuk dipukuli. Akan tetapi, Rasulullah saw. berpikir lebih jauh. Yang kotor dapat dibersihkan, namun orang Badui yang diserang beramai-ramai hatinya tidak akan mendekat pada Islam. Ketika diberi penjelasan dengan lembut, ternyata ia dapat menerimanya dengan baik, dan berhasillah dakwahnya dengan sedikit pengorbanan (yaitu kotornya Masjid).
Sekedar membedakan mana yang baik dan buruk saja tidaklah cukup. Kita harus menimbang segala aspek yang memungkinkan semakin mendekatnya para objek dakwah kepada Islam. Menariknya, terkadang para pendakwah sendiri lupa bahwa mereka seharusnya berusaha mendekatkan para objek dakwah ke jalan yang benar, bukannya malah menjatuhkan vonis dan membuat mereka merasa dimusuhi. Memang ada pihak-pihak tertentu yang sudah sedemikian kontra dengan Islam sehingga pantas dikategorikan sebagai musuh, namun tidak semuanya seperti itu. Perlu kebijaksanaan untuk mampu membedakan antara ‘kekhilafan’ dan ‘kesesatan’.
Para mahasiswa di Makassar pernah bentrok dengan para supir angkot. Para mahasiswa kerap kali berdemonstrasi pada pemerintah, namun hasil akhirnya justru membuat macet jalan-jalan, dan secara tidak langsung mengurangi rejeki para supir angkot. Seruan para mahasiswa dalam demonstrasi itu mungkin benar, namun caranya membuat orang-orang tidak simpati. Kalau metodenya tidak dikoreksi, maka ‘dakwah’ para mahasiswa itu akan lebih banyak gagal daripada berhasilnya.
Fenomena FPI juga merupakan kasus tipikal yang menunjukkan urgensi fiqh dakwah. Belum lama ini FPI bentrok (lagi) dengan Papernas, sebuah partai baru yang menurut kabar burung memiliki kedekatan dengan ideologi komunis. Sekonyong-konyong FPI berdiri pada kutub yang berlawanan. Setiap kegiatan Papernas yang diketahui massa pasti langsung dihadang oleh FPI.
Pada bentrok belum lama ini, FPI menyerang massa Papernas, termasuk merusak beberapa kendaraan umum yang disewa oleh Papernas untuk mengangkut kader-kadernya. Ujung-ujungnya, opini masyarakat berbelok dengan cepat, sehingga nyaris tak ada lagi yang mendengar seruan FPI yang menyatakan bahwa Papernas mesti dibubarkan karena berideologi komunis (terlepas benar-tidaknya klaim tersebut). Yang terlihat kini adalah FPI dengan brutalnya merusak bus-bus kota yang supirnya (barangkali) tak tahu apa-apa soal ideologi Papernas, dan tindakan FPI yang tidak jauh beda dengan pelajar Jakarta yang hobi tawuran.
Jika pola-pola ini diteruskan, sangat besar kemungkinan FPI akan menjadi bumerang bagi umat Islam. Niatnya mencari simpati, namun akhirnya malah mendapatkan caci-maki. Parahnya lagi, yang dicibir bukan hanya FPI, melainkan semua orang yang memperjuangkan Islam. Kejadian-kejadian semacam ini selalu dimanfaatkan oleh kaum sekularis untuk menyerang orang yang taat pada ajaran Islam.
Sekarang bagaimana? Mau terus mencoreng nama baik umat Islam, atau mau belajar fiqh dakwah bareng-bareng?
wassalaamu’alaikum wr. wb.

Menjadi Murabbiyah Sukses (Cahyadi Takariawan dan Ida Nur laila)

Tarbiyah islamiyah pada dasarnya melibatkan tiga unsur dalam waktu bersamaan, yakni teori, seni, dan sekaligus pengalaman. Dari sisi teori, sudah begitu banyak buku yang membicarakan tentang tarbiyah islamiyah, bahkan sangat lengkap dan detail, sebagaimana buku-buku karya Ustadz Dr. Ali Abdul Halim Mahmud. Akan tetapi, mentarbiyah bukanlah sekadar teori, di sana ada aspek seni dan juga pengalaman, yang memerlukan sentuhan khusus.

Dalam kaitannya dengan sisi-sisi seni mentarbiyah, akan banyak ragam yang menunjukkan karakteristik waktu dan tempat. Demikian pula dalam ranah pengalaman praktis di lapangan, sangat banyak ragam dan coraknya. Sayang sekali, pengalaman para murabbi dan murabbiyah dalam melakukan tugas tarbiyah belum banyak didialogkan dan ditulis.
Buku ini juga mengupas lebih detail tentang seluk-beluk dunia tarbiyah; prinsip-prinsip dasarnya, orientasinya, urgensinya bagi akhawat Muslimah, bagaimana proses awalnya, serta beragam kiat dan apa saja yang perlu dan harus dilakukan oleh para dan calon murabbiyah agar bisa memetik kesuksesan amal tarbiyah.
Dakwah bukanlah sekadar kewajiban, namun juga “pilihan.” Bersyukurlah oramg-orang yang memilih dakwah sebagai jalan hidupnya. Jalan dakwah sebagai pilihan bukan semata-mata lahir dari relung naluri, tabiat, dan bakat kemanusiaan saja, ia harus diyakini sebagai hidayah dari Allah. Kesadaran seperti inilah yang akan membuat kita yakin hidup ini akan senantiasa dibimbing petunjuk-petunjuk Allah.
Aktivitas kehidupan itulah cerminan aktivitas dakwah kita, yaitu melalui “Tarbiyah”. Lalu, bagaimana memulai tarbiyah?
Jawabannya adalah >> timbulkan “rasa ketertarikan”

>> Bagaimana menimbulkan ketertarikan?
• Keihlklasan anda
• Penampilan komunikasi anda
• Perhatian anda
• Keramahan dan kehangatan anda
• Keilmuan anda
• Posisi anda
• Senyum anda anda
• Bahasa

>> Siapakah yang akan dibina?
• Semua manusia memerlukan pembinaan
• Kemampuan dan potensi manusia berbeda-beda

>> Bagaimana melakukan pengelompokkan?
• Pengenalan kondisi umum mutarabbiyah
• Pengenalan latar belakang aktivitas mutarabbiyah
• Menentukkan kelompok

>> Proses memilihkan murabbiyah
• Keunggulan mustawa (tingkatan) ruhi, fikri, amali
• Kedekatan kondisi sosial ekonomi
• Kedekatan usia biologis
• Kedekatan lokasi
• Kedekatan kecenderungan kejiwaan

>> Bagaimana manhaj tarbiyah diaplikasikan?
• Pahami kondisi mutarabbiyah dengan baik
• Tentukanlah muwashafat yang belum terealisir pada mutarabbiyah
• Pilihlah, poin muwashafat yang hendak anda capai bersama mutarabbiyah
• Tentukan sarana tarbiyah yang sesuai untuk mencapai muwahafat tersebut

>> Persiapan menjadi murabbiyah
• Siapkan mental
• Siapkan ilmu
• Siapkan spiritualitas
• Siapkan akhlak Kemampuan khas murabbiyah
• Bahasa arab
• Bahasa Indonesia
• Menulis dengan huruf arab
• Menulis huruf latin
• Berbicara
• Beretorika
• Mendengarkan
• Menyegarkan suasana
• Berkomunikasi
• Bercerita
• Memimpin forum
• Merespon dan menyelesaikan masalah Memulai interaksi
• Membuat kontrak tarbiyah
• Membangun kepercayaan awal
• Membangun kedekatan
• Membangun komunikasi efektif
• Mintalah feedback dari mutarabbiyah

>> Yang jangan pernah dilakukan
• Bersikap kaku/kasar
• Melupakan nama
• Memotong pembicaraan
• Menegur langsung di hadapan akhawat yang lain
• Tidak mau menyempatkan mendengar curhatannya
• Tidak memberikan waktu untuknya
• Tidak menanggapi usulannya
• Tidak dialogis dalam mengelola forum
• Tidak pernah menanyakan kondisinya
• Tidak pernah memujinya
• Tidak mau mengakui kesalahan dan meminta maaf
• Ghibah

>> Perlengkapan bagi murabbiyah
• Quran
• Hadist arba’in
• Buku induk kumpulan paket materi tarbiyah
• Catatan materi
• Referensi induk
• Referensi rujukan
• Administrasi
• Media
• Transport
• Komunikasi

>> Pengelolaan Teknis
• Mengelola tempat pertemuan
• Kejelasan teknis pertemuan
• Menyiapkan perlengkapan teknis yang diperlukan di tempat acara
• Menyiapkan ruangan
• Pengaturan kedatangan
• Penjagaan ketertiban dan kerapian

>> Pengelolaan forum
Persiapan awal
• Pengecekan kehadiran
• Pengecekan kesiapan perlengkapan
• Penataan forum tarbiyah

>> Pengelolaan agenda forum tarbiyah
• Pembukaan
• Tilawah
• Kultum
• Penyampaian materi
• Diskusi
• Syura
• Taklimat
• Kesimpulan
• Penutup
• Infaq
• Pengecekan syiar dan hafalan

>> Kegiatan tarqiyah bersama
• Mabit atau jalsah ruhiyah
• Diskusi atau bedah buku
• Daurah ilmiyah tsaqafiyah
• Kursus bahasa arab
• Dauroh manajemen dan lifeskill
• Riyadhah
• Mukhayam
• Rihlah
• Silaturahim
• Shalat fardhu berjamaah
• I’tikaf ramadhan
• Membagi hadiah Kegiatan tadribiyah
• Kegiatan munasharah atau pembelaan terhadap kaum muslimin
• Kegiatan muzhaharah atau demonstrasi
• Kegiatan kepanitiaan
• Mengisi daurah
• Aktivitas organisasi
• Mengelola halaqoh tarbawiyah
• Keterlibatan dalam dakwah amah

>> Tips :
• Membangun keterbukaan
• Hidupkan suasana diskusi
• Libatkan mereka dalam program halaqah
• Variasikan kegiatan halaqah
• Libatkan mereka dengan acara-acara keislaman
• Libatkan dalam aktivitas amal jama’i
• Jangan terlalu banyak memberi beban

Menarik simpati para binaan dalam awal-awal mentoring sangat dipengaruhi oleh kondisi keimanan Anda sebagai murobbi, guru atau pendidik. Dimulai dari kepribadian Anda. Akhlak dan sikap Anda lebih diperhatikan oleh binaan daripada pengetahuan Anda tentang materi yang sedang disampaikan. Lebih penting daripada keahlian Anda berbicara. Bahkan lebih penting daripada apa yang Anda sampaikan. Faktanya, kepribadian Anda menentukan 80% kesuksesan dalam menarik simpati mereka.
Kesalahan terbesar jika Anda berpikir bahwa dakwah membutuhkan Anda. Dari kali pertama Anda bergabung dengan kafilah dakwah sampai akhir hayat, Andalah yang membutuhkan dakwah. Jangan pernah merasa berjasa kepada dakwah, jangan berpikir dakwah ini berhutang budi karena aktivitas Anda. Barangsiapa berbuat baik, maka itu untuk dirinya sendiri. Bersyukurlah jika Allah masih memberikan kenikmatan dalam berdakwah pada diri Anda. Semakin Anda bersyukur, maka Allah akan semakin menambah nikmat Nya.
Katakan pada diri Anda sendiri bahwa Anda akan berjuang dan terus bersama dakwah sampai kapanpun. Jika ada 100 orang yang berjuang, pastikan Anda termasuk di dalamnya. Jika ada 10 orang yang berjuang, pastikan Anda termasuk di dalamnya. Jika ada 1 orang yang berjuang, pastikan bahwa orang itu adalah Anda.
Salah satu rahasia kesuksesan adalah melakukan apa yang Anda cintai. Menjadi murobbi sukses berarti menjadi orang yang terus berkomitmen dalam dakwah, komitmen dalam meningkatkan kapasitas diri, dan peduli pada binaan. Memberikan perhatian sekecil apapun kepada binaan, sangat besar dampak positifnya. Anda adalah murobbi dalam setiap waktu, bukan hanya sepekan sekali. Anda adalah murobbi bagi diri Anda sendiri, keluarga, binaan, dan orang-orang di sekitar Anda.
Karena membina adalah “FLASH – TRACK” (red: jalan tercepat) menuju Syurga-Nya
(ungkap seorang trainer mentoring Bogor; Bp. Sri Mudji, dalam Dauroh Mentoring, 28 Mei 2011)
Selamat membina!
Wallohu aâlam bish showab